Showing posts with label BLH. Show all posts

Tuesday, January 23, 2018

APEL HUT PRAMUKA DAN HUT PROVINSI BALI TAHUN 2016

  No comments
January 23, 2018


Dalam satu minggu ini saya akan mengikuti tiga apel di hari yang berbeda. Ini pertama kali saya apel lagi sejak terakhir saya ikut apel pas SMP. Tumben pegawai kontrak diikutkan dalam apel. Dulu karena alasan gak punya seragam KOPRI, pegawai kontrak gak diikutkan dalam apel. Sekarang pegawai kontrak ikut apel memakai seragam putiih hitam.

Apel memperingati Hari Pramuka dan Hari Jadi Provinsi Bali jatuhnya bersamaan pada tanggal 14 Agustus. Tahun ini jatuhnya pada hari minggu. Agak berat sih libur - libur disuruh apel. Pulang kampung jadi gak bisa, waktu untuk tidur siang di hari libur pun berubah menjadi mandi pagi - pagi buta. Libur, mandi, dan pagi, bukan kombinasi yang pas.

Awalnya sempet panik karena saya gak bawa baju putih ke kos. Sempet cemas juga jangan - jangan baju putih saya di rumah ternyata udah dikasi orang oleh ibu saya. Kebanyakan ibu sepertinya emang gitu, daripada bikin rumah penuh, baju - baju yang gak kepakai mending dibuang. Syukur - syukur kalo dikasi orang, biasanya nasib baju - baju ini paling mentok dijadiin kain pel.

Demi ngambil baju putih, saya pulang pergi Karangasem - Denpasar dalam sehari, kurang lebih sepanjang 72 km. Saya gak bisa nginep karena besoknya sudah harus di lapangan pagi banget. Takutnya telat atau ngantuk di jalan.


Rupanya saya punya banyak stok baju putih di rumah. Belum menjadi keset atau semacamnya oleh ibu. Saya pilih baju putih yang terbaik. Biar kalau ketemu cewek jadi PD ngajak kenalan. *uhuk

Tapi tetep aja sampe lapangan, dari sejak gladi hari jumat, sampe pas apel gak dapet kenalan sama cewek satupun. Padahal banyak yang cakep - cakep. Saya keduluan minder dengan tinggi badan dan penghasilan. HAHAHAHAHA

Di setiap barisan sudah dipasangi plang yang bertulisan instansi - instansi yang akan berbaris disana. Untuk pegawai kontrak disatukan dalam satu kelompok dengan plang bertuliskan 'Tenaga Kontrak'. Ini kalo dijadiin bahasa Inggris jadinya 'The Power of Contract' atau 'The Contract Power' ya?

Barisan pegawai kontrak ini paling ngaco barisnya. Kepala tolah - toleh, lambat denger intruksi untuk hormat. Hormatnya kalo diingetin sama temen di belakang atau lihat temen yang di depan hormat duluan. Barisnya juga gak tegak, belak belok, dan gak jarang yang pindah - pindah barisan. Gak teratur banget pokoknya. Gimana mau diangkat jadi PNS kalo kayak gini ceritanya.

Saya sendiri selama apel tentu saja berdiri tegak, pandangan selalu lurus ke depan, dan menyimak segala intruksi yang diberikan.

Canda, ding. Saya sepanjang berjalannya apel asik ngobrol sama temen baru di depan saya.

Apel sabtu kemarin rada mistis. Selama berjalannya apel awan hitam udah menggelayut di atas kami. Hujan rintik - rintik kecil sesekali jatuh, tapi gak sampe deres. Anginnya udah kenceng banget. Saya udah takut apelnya bakal pake kuah. Males banget basah - basahan kena hujan. Kepikiran sama hape dan sepatu sih. Kalo yang lain sih masih ada cadangannya dan gapapa kalo kena air, gak bakal rusak.

Malu sebenernya sama pahlawan - pahlawan bangsa. Sama hujan air aja takut. Sedangkan mereka dihujani peluru aja tetep berjuang membela Indonesia.

Nah momen mistis terjadi beberapa menit setelah pak Gubernur meninggalkan lapangan dan pasukan dibubarkan. Hujannya gak pake kompromi jatuh sederes - deresnya. Yang mau selfie di tengah lapangan langsung bubar. Lari kalang kabut nyari tempat buat neduh. Ada yang neduh di tenda undangan, ada yang ke pohon, ada yang neduh ke dalem kemben ibu - ibu darma wanita.

Saya dan beberapa orang lainnya buru - buru lari ke parkiran. Kebetulan motor saya parkirnya deket. Anjir, ini yang sakti pak Gubernurnya atau EO-nya udah nyewa pawang?

Kalo beneran pawang, jadi penasaran kontraknya kayak gimana? Apa per jam, atau seperginya pak gubernur, atau jangan - jangan pas apel kemarin itu sebenernya hujannya musti ditahan sampe lapangan sepi tapi pawangnya udah gak kuat nahan??

Read More

Wednesday, March 15, 2017

DIPAKSA NGAPALIN PANCA PRASETYA KOPRI, PADAHAL BUKAN PNS

  No comments
March 15, 2017


Selasa itu saya dateng afak telat ke kantor. Sampai kantor apel sudah mau selesai, tinggal sembahyang bersama. Saya nunggu di parkiran. Pas semua sudah mulai sembahyang, saya mengendap-endap masuk ruangan.

Lima sampai 10 menit kemudian apelnya kelar. Ewi yang pertama masuk ke ruangan. Masuk - masuk dia langsung ngasi kabar buruk. Di apel selanjutnya PNS maupun kontrak yang telat hari itu diminta maju menyebutkan Panca Prasetya Kopri.

Hal ini langsung jadi tubir. Terutama soal saya yang notabene bukan PNS yang diminta mengucapkan janji sakral tersebut. Saya ngerti maksud pak kepala ngasi intruksi kaya gitu. Hanya ingin menekankan kata 'disiplin' dalam sila kelima.

Saya gak masalah dihukum seperti itu. Karena saya memang salah. Tapi hukuman ini lumayan berat. Pertama, Panca Prasetya Kopri itu susah banget. Ngapalin sendiri di ruangan sepi aja bibir bisa selip, apalagi di depan bapak - bapak dan ibu - ibu PNS.

Apalagi Panca Prasetya Kopri kata - katanya banyak, kalimatnya panjang, dan menjelimet. Saking banyaknya, kata pembuka sebelum masuk ke sila aja sudah susah. Sebentar, kepanjangan KOPRI aja sudah bikin rentan salah sebut. Saya masih biasa menyebut kepanjangan KOPRI menjadi Korps Pegawai NEGERI Republik Indonesia. Padahal ga isi negeri. Kebiasaan dengan kepanjangan PNS soalnya.

Sedangkan kata KOPRI harus disebut dalam bentuk kepanjangannya. Baik dari judul sampai di dalam sila - silanya.

Setelah judul yang sulit (karena ada kata KOPRI-nya). Kesulitan selanjutnya adalah kalimat pembuka.
"Kami anggota Korps Pegawai Republik Indonesia adalah insan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berjanji:"
Itu saja sudah panjang. Gak cocok disebut kalimat pembuka, tapi sila ke-nol!

Kesulitan pertama dalam kalimat pembuka ini adalah selalu salah menyebutkan dua suku kata awal dengan menyelipkan kata 'adalah' diantara keduanya menjadi 'kami adalah anggota'.

Kemudian suku kata selanjutnya 'adalah insan yang beriman dan bertaqwa'. Kata - kata 'adalah insan' berdampingan dan 'beriman' meningkatkan level kesulitan dalam pengucapan Panca Prasetya KOPRI. Saya sering selip. Kalo lagi blank, nyebutnya jadi 'adalah iman yang berinsan'.

Masuk ke sila pertama.
"Satu. Setia dan taat kepada negara kesatuan dan pemerintah republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang - Undang Dasar 1945"
Saya mengerti alasan kenapa ada kosakata 'negara kesatuan'. Maksudnya pasti kepanjangan dari NKRI. Tapi kalo maksudnya NKRI, kenapa musti diselipin kata 'pemerintah'??? Insecure banget ya pegawai gak setia dan taat sama pemerrintah? Bukankah kalo udah setia kepada NKRI, itu sudah termasuk dalam pemerintah??? Pemerintah dan negara kan satu kesatuan, ga perlu diperjelas lagi keleus.

Dan juga penambahan kalimat 'berdasarkan Pancasila dan Undang - Undang Dasar 1945". ga bisa sampai di kata 'Indonesia' langsung titik gitu? Jadi penasaran, gimana sejarah pembuatan janji ini. Pengen ngajak ngomong yang bikin. Kayanya susah banget hidupnya.

Sila kedua.
"Menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan negara serta memegang teguh rahasia jabatan dan rahasia negara"
Kemungkinan salah urutan penyebutan kata dalam sila ini sangat besar. Antara kata 'bangsa' dan 'negara' serta 'rahasia jabatan' dengan 'rahasia negara'.

Sila ketiga. SILA TERGAMPANG.
"Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat di atas kepentingan pribadi dan golongan"
Meskipun gampang, kalo pas grogi atau ngeblank, tetep aja ada yang salah sebut atau tiba - tiba lupa. Saya bahkan bisa skip kata 'negara dan masyarakat' langsung menjadi 'Mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan'. Kan parah.

Sama satu lagi, penggunaan kata 'negara' dalam sila ini terasa susah disebutkan. Lebih terbiasa mengucapkan 'bangsa'.
"Memelihara persatuan dan kesatuan bangsa serta kesetiakawanan koprs pegawai republik Indonesia"
Itu bunyi sila keempat. Setelah sila ketiga yang lumayan mudah, akibat terlena keringanan dari sila ketiga, sila keempat saya sering blank. Inget inti kalimatnya, tapi selalu lupa kata awalnya. Serta masalah lainnya, irama kalimat. Sampai sekarang saya belum menemukan irama yang pas untuk penyebutan sila ini.

Fiuh. Akhirnya.
"Menegakkan kejujuran, keadilan, dan disiplin, serta meningkatkan kesejahteraan dan profesionalisme."
Ini sila terakhir.Serng gak sabar pengen cepet menyelesaikan sila ini. Jadinya, karena terburu-buru, saya sering lupa kalimat setelah kata 'disiplin'. Padahal kalimat itu yang terpenting untuk pegawai egois seperti saya. 'Meningkatkan kesejahteraan."

Janji ini seakan dibuat biar serasi dengan citra birokrasi di negeri ini. Atau jangan - jangan birokrasi kita idektik dengan lelet dan alur terlalu panjang karena mengaplikasikan janji yang juga panjang ini??

Entahlah.

Yang pasti, sekarang setiap malam dan pagi saya selalu dihantui ketegangan. Cemas jika dipanggil. Tapi ada rasa ingin dipanggil, agar kalau sudah dipanggil maka penderitaan karena diliputi kekhawatiran ini segera hilang.

Tadi pagi harusnya ada yang dipanggil, tapi karena banyak yang dateng telat, ga jadi ada yang disuruh maju. Mungkin besok, atau besoknya lagi, atau lusa. Gitu terus sampe saya stres berkepanjangan.

Tapi ga mungkin saya mengajukan diri untuk maju. Soalnya saya belum PD apakah mampu menghapal dengan lancar. :p 



Read More

Wednesday, September 21, 2016

BYE WIFI ID

  No comments
September 21, 2016


Karena kerjaan di kantor udah mulai santai, di sela - sela kesibukan saya jadi sempet ngedit video. Syukurlah untuk video selanjutnya udah sampai di draft awal. Tinggal masukin video narasi dari saya, audio, sound, dan rapih-rapih dikit. Gapapa kemajuannya baru dikit, daripada gak ada sama sekali.

Besok saya mulai uji profisiensi lagi. Uji profisiensi adalah semacam tes untuk mengetahui apakah kemampuan lab tersebut dalam menganalis sampel sudah baik atau belum. Saya harap bisa mendokumentasikan dan menceritakan detail lengkap tentang uji ini di blog dan dalam video. Tapi kali ini saya belum pengen menceritakannya. Ngebayanginnya aja udah bikin ngeri. Saya belum bisa menghilangkan rasa tegang setiap menjalani tes apapun. Gak cuma tes, saya juga gugup ketika ketemu orang baru atau melakukan hal baru untuk pertama kali. Intinya, mental saya tempe.



Btw, saya udah beli mifi. Lumayan kalo mau ngenet gak perlu keluar kos lagi. Ini adalah impian saya sejak lama. Meski ga sekeceng pake internet Telkom, tapi waktu saya jadi fleksibel. Ketika pengen, bisa langsung ngenet, ketika udah mentok, udahan dulu. Ketika kangen mantan, cuma bisa garuk - garuk tanah.

Cuman ternyata harga pulsanya agak mahal. Saya beli Mifi dari Smartfren. Harga kuotanya 300rb untuk kuota 30GB dalam sebulan. Ada yang lebih murah, tapi dia gak seharian, pakai jam pagi dan jam malem. Jam paginya dari jam 00 sampe 6 pagi. Saya agak males milih opsi ini karena begadang demi ngenet gak baik untuk kesehatan. Gak begadang aja saya sering ngantuk di kantor, apalagi isi begadang, bos bisa-bisa mendeportasi saya keluar kantor.

Promo kartu perdananya juga gak ada, padahal lumayan kalau ada promonya kayak operator - operator lain. Gak perlu beli pulsa, beli kartu baru aja, biar langsung dapet bonus banyak. Pengen pindah operator, enggak bisa, musti kartu smartfren.


Kalo dihitung - hitung, ngabisin pulsa 300rb perbulan untuk internet dari mifi doang sebenernya hitungannya tekor. Apalagi hape BB saya gak bisa diandelin, sering gak mau konek ke wifi. Kalo dulu pas langganan wifi.id, cuma 50rb/bulan, pulsa hape 60rb/bulan, total cuma 110rb. Enaknya mifi ini cuma bisa ngenet dari rumah doang! Mending thetering ke laptop dari hape aja, tinggal isiin kuota yang 100rb, ngenet dari hape bisa, dari laptop pun jadi, dan gak nyampe 300rb. Cuman hapenya yang saya gak punya. :x

Mungkin bulan depan saya akan nyoba paket internet smartfren yang 60rb. Dua giga siang - malem, 12 giga subuhnya. Saya rela deh bangun jam 4 pagi demi internetan. Huhuhu

Setelah posting tulisan ini saya mau melihat draft video yang saya ceritain di atas, mengira - ngira apa lagi yang mau saya tambahin besok. Jika video ini kelar (dan video dokumentasi uji profisiensi, amin!) saya pengen nyoba aplikasi editing video lain selain movie maker yang biasa saya gunakan. Dan membeli tripod, mic, dan gear lain. Serta membeli dan mengerjakan pekerjaan rumahan yang lama tertunda gara - gara sibuk fokus sama hobi baru ini. Wah, padet! :D

Udah dulu ya temen-temen. Ciao


Read More

Tuesday, August 30, 2016

MANDI TANPA SABUN SEJAK HARI MINGGU

  No comments
August 30, 2016


Ketika dihadapkan pada kewajiban yang tidak terlalu mendesak, masih bisa ditunda, saya memilih untuk tidak melakukannya dulu. Saya ambil kerjaan lain (yang mungkin saja urgensinya lebih rendah) yang lebih menyenangkan untuk diambil segera. Intinya saya mau bilang: sejak hari minggu saya mandi gak sabunan.

Rasanya berat banget mampir ke warung beli sabun. Badan rasanya belum daki - daki amat, jadi masih nyaman mandi cuma guyuran air, keramas, dan gosok gigi doang. Tadi sekalinya mandi pake sabun lagi, air bilasan menjadi keruh, butiran - butiran pasir tercecer di lantai, dan saluran kamar mandi mampet oleh gumpalan kulit mati yang mengelupas.

Paling parah itu kemarin. Jam 6 sore seluruh pegawai wajib dateng ke Art Centre untuk menyaksikan Malam Penganugrahan Bali Mandara Parama Nugraha 2016. Ini adalah ajang pemberian penghargaan sebagai apresiasi kepada tokoh - tokoh yang dianggap berjasa dan berperan aktif dalam memajukan kebudayaan dan kesejahteraan masyarakat Bali.

Deadline jam 6, jam setengah 5 saya masih ketahan di lab nemenin bli Adi nguji. Bli Adi ga nyuruh saya tetep tinggal, cuman saya gak enak aja ninggalin temen lembur di lab. Dan bli Adi adalah lelaki sejati, ketidak pekaannya besar sekali. Dia ga ngeh saya udah gelisah ngeliatin jam mulu. Mata saya udah ngantuk, kalo terlalu mepet pulang kantornya, takutnya saya gak sempet tidur dan akhirnya jadi sakit kepala nahan ngantuk pas nonton di Art Centre. Atau bisa jadi saya batal kesana gara - gara ketiduran. Padahal ini wajib, diabsen.

Saya kalo tidur siang atau sore gak bisa sebentar. Rata - rata sampai 3 jam. Itulah kelemahan saya. Dan akhirnya, jam 5 sore kurang dikit kami pun akhirnya pulang. Di kantor udah pada sepi. Kayaknya semua punya pemikiran sama seperti saya: karena sore harus ke Art Centre, jadi semua pulang tenggo (teng jam pulang kantor, langsung go!)


Baru pulang jam 5, dan jam 6 harus pergi lagi itu kentang banget. Tidur bentar gak keburu, mau siap - siap tapi kecepetan. Sambil nunggu jam setengah 6 buat mandi, saya baca-baca timeline twitter. Scroll - scroll beberapa tweet, gak berasa saya ketiduran.

Bangun - bangun udah jam 7 kurang!

Kaget. Saya lari kalang kabut buru - buru mandi. Mandinya tanpa sabun. Abis mandi saya baru sadar: saya gak bawa pakaian adat ke kos!

Padahal dresscode malem ini adalah pakaian adat. Yang ada di lemari saya adalah pakaian sembahyang. Itu pun bajunya enggak ada dan udeng (ikat kepala). Meskipun jika seandainya pakaian sembahyang saya lengkap, akan tetep aneh kelihatan. Karena pakaian sembahyang, dengan pakaian adat, sangat berbeda dari segi warna. Mencolok banget bedanya. Ini malah udah salah kostum, tanpa udeng, telat pula. D e m i a n

Saya coba minjem udeng ke bli Adi, dianya lagi dorong motor deket lokasi acara, motornya gembos. Ya ampun.

Saya jadinya pake kamen (bawahan dari kain) putih - putih, baju endek (kain khas Bali), tanpa udeng. Acara udah mulai ketika saya nyampe sana, padahal udah ngebut kesananya. Orang - orang udah masuk ke panggung. Di luar udah mulai sepi. Beberapa masih ngantri di post konsumsi ngambil nasi bungkus. Tapi, TEMPAT ABSENNYA MANAH???

Absen itu yang terpenting. percuma dateng, temen-temen lihat saya dateng, tapi gak ada tanda tangan saya di absen. Saya coba telpon temen yang kira - kira dateng. Saya kepikiran sama mbok Sekar. Percobaan telpun pertama, nyambung. Mbok Sekar menjawab dari seberang telpon. Dia langsung bilang lokasinya dia duduk. Padahal saya mau nanya absennya dimana. T___T

Belum sempet nanya lagi, telpunnya putus. Mungkin gangguan sinyal. Di hape saya sinyalnya penuh. Saya coba telpun lagi, gak nyambung. Kayaknya hapenya mati. Saya telpun yang lain, pak Sugi. Nyambung, tapi gak diangkat. Saya panik. Saya telpun lagi mbok Sekar, hapenya masih mati. Yaelah situasi genting gini pake acara hape mati segala.

Saya coba masuk ke panggung dan ke lokasi yang tadi sempet dibilang sama mbok Sekar. Mondar - mandir dengan pakean paling beda dari yang lain sangat enggak nyaman, semua orang yang melihat pada ngeluarin ekspresi yang sama. Ekpresi kebingungan.


Pencarian makin sulit karena lampu di kursi penonton mulai dimatikan. Hape saya bunyi, SMS dari mbok sekar. Isinya masih sama, tentang lokasi dimana dia duduk. Saya bales.

"Absennya dimana?"

Pending.

Saya resend.

Tetep pending.

Anjrit.

Saya coba telpun lagi, hapenya mati lagi. Nyerah, saya coba hubungi yang lain. Gung Dini. Acara sedang masuk ke agende menyanyikan lagu wajib. Penonton yang noleh ke saya makin banyak dari sebelumnya karena nelpon Gung Dini pas mereka nyanyi. Bukannya gak hormat sama lagu kebangsaan, tapi hidup mati saya di kantor dipertaruhkan disini, kepada absensi acara ini.

Gung Dini cukup informatif. Dari dia saya tahu kalo dia duduk sebelah mbok Sekar dan bu Wiwik (yang bawa absen). Harapan datang lagi kepada saya, saya jadi semangat untuk mencari mereka. Untung saya hapal penampakan tampak belakang dari Gung Dini. Meski keadaan gelap, gak susah mencarinya.

Rupanya bli Adi sudah sampe sana. Motornya udah bener. Ternyata absennya udah dikumpul. Bli Adi sempet dikasi tahu bu Nina (kepala sub bagian Kepegawaian) pas dia baru nyampe kalau pegawai kontrak gapapa gak diabsen. Yaudah deh yang penting udah setor muka ke temen - temen buat bukti saya udah dateng.

Ada beberapa momen lagi yang terjadi selama acara berlangsung. Saya lanjutkan di tulisan selanjutnya.

つづく

Read More

Sunday, August 28, 2016

DIGIGIT TEPAT DI PUTING

  No comments
August 28, 2016


Saya biasanya baru bangun jam setengah 7 pagi. Jarak kos dengan kantor yang gak begitu jauh memungkinkan saya baru prepare ke kantor di detik - detim terakhir. Tapi minggu tadi ada yang gak biasa. Saya terbangun ketika ayam mulai berkokok. Saya cek jam di hape, baru jam 4 kurang. Tapi bukan karena denger suara ayam saya terbangun, tapi ada rasa nyeri di dada. Tepatnya, di bagian puting.

Karena masih sangat ngantuk, saya lanjutin lagi tidur dan baru bangun lagi jam 6 gara - gara Dewi SMS, ngasi kabar kalo dia udah di lapangan Renon sendirian, temen yg lain belum pada dateng. Hari ini kebetulan kantor dapet tugas jadi kordinator bersih - bersih di lapangan Renon. Abis bales pesannya Dewi, saya pun mulai bersiap - siap. Puting saya masih nyeri, waktu saya raba, ada benjolan. Apa ini gejala kanker payudara?

Saya bersih - bersih di Renon sambil menahan sakit. Sesekali saya usap puting saya dari luar baju memastikan benjolan yang terjadi, sekalian biar sakitnya jadi agak mendingan. Benjolannya makin membatu. Pulang dari bersih - bersih saya periksa lagi puting ini. Lama saya liatin, benjolannya gak begitu besar, tapi padet dan menyakitkan. Berasa habis digigit! Apa jangan - jangan ketika saya tidur ada yang diam - diam masuk ke dalam kamar saya?


Tapi kamar dan jendela saya kunci tadi malem sebelum saya tidur. Saya periksa seluruh kamar saya, gak ada tanda - tanda dibobol maling. Gak ada barang yang hilang atau dirusak. Kalau temen sendiri, yang tahu alamat kos saya cuma bli Adi dan adik saya. Dan rasanya mereka cukup normal sehingga sulit rasanya mereka doyan sama saya. Atau jangan - jangan ada yang diam - diam mengintai saya selama ini? Tapi kalaupun pengen sama susu saya, gak perlu diem - diem kali, tinggal bilang aja, saya kasi dengan senang hati.

Saya terus mikirin ini seharian. Sampai - sampai saya gak sadar kalo ketiduran. Bangun - bangun udah sore, itu pun gara - gara diganggu sama semut - semut yang gigitin tangan dan badan saya.

AHAAAAA! Jadi ini pelakunya!. Semut - semut ini yang gigit puting saya ketika saya tidur.

Tapi kenapa tepat banget di puting ya? Apakah karena air susu itu manis? Tapi saya kan cowoooo

Pesan moral: rajin - rajinlah bersihin tempat tidur sebelum bobo, kali aja ada serangga, atau mantan yang tersangkut.

Read More

Thursday, August 18, 2016

UPACARA 17 AGUSTUS TERCEPAT DENGAN PESERTA PALING SEDIKIT

  No comments
August 18, 2016


Apel selanjutnya yang saya ikutin setelah apel pramuka hari minggu kemarin adalah apel 17 agustus. Sebut saja saya kurang nasionalis, tapi ikut - apel - apel beginian sangat jarang saya lakukan. Di lingkungan saya yang apel beginian biasanya anak sekolah, atau orang kantoran. Selama bekerja pun saya gak pernah ngantor di tempat yang mengadakan upacara ketika proklamasi. Adanya sih upacara mengheningkan cipta saat tanggal tua, semua menunduk.

Karena jarang ikut apel, hari proklamasi biasa saya habiskan untuk leyeh - leyeh aja dalem kamar. Paling kalo lagi iseng sesekali saya nonton TV liat prosesi upacara di istana negara, dan liat paskibra - paskibra putri yang cakep - cakep dan tinggi - tinggi. :9

Di kantor yang sekarang ini pun tumben pegawai kontraknya diajak apel. Biasanya enggak diajak karena alasan gak punya baju seragam (sudah saya jelasan di tulisan tentang apel pramuka). Kantor mewajibkan pegawai apel dua kali. Pagi saat pengibaran bendera, dan sore saat penurunan bendera. Agak nanggung sebenernya. Jeda dari jam 9 sepulang dari apel pagi ke jam 5 saat apel sore gak bisa saya nikmatin dengan tenang. Bawaannya degdegan mulu, takut telat balik ke kantor. Tapi gak lebih degdegan daripada telat datang bulan sik.


Pengalaman ikut apel pramuka kemarin membuat saya gak berkespektasi terlalu tinggi untuk apel 17 agustus kali ini di kantor sendiri. Yang ikut gak terlalu banyak karena sebagian ikut apel bersama pak Gubernur di lapangan depan kantor gubernur. Temen - temen yang jadi petugas upacara sudah mulai siap - siap. Meski yang agak mengkhawatirkan adalah tim pengerek bendera. Mereka masih belajar melipat bendera biar pas bilang 'bendera siap', benderanya gak terlilit. Hampir 30 menit mereka mencoba, banyak orang coba membantu tapi belum juga bisa. Sampe akhirnya pak Guantika ikut menolong, dan setelah beberapa percobaan ternyata berhasil. Upacara pun dimulai meski saya pribadi tetep ngeri. Cemas sama benderanya kalau misalnya salah melipat dan akhirnya terlilit.

Dari awal MC memulai upacara sampai pembina upacara memasuki lapangan gak ada kejadian yang aneh - aneh. paling cuma microfon pembina upacara yang agak longgar sehingga pegangannya sering turun sendiri.

Sampai akhirnya tiba saatnya pengibaran bendera. Pasukan pengibar, yang terdiri dari 1 cowok di tengah dan 2 cewek mengapitnya (ini terbalik dari lumrahnya formasi pengibar bendera), mulai ancang - ancang memasuki lapangan. Suasana mulai mencekam saat petugas mulai mengambil ujung bendera untuk ditarik. Semua meperhatikan dengan seksama. Saat petugas yang ditengah akan menarik ujung bendera dan bilang 'bendera siap!" saya gak nafas. Dan ternyata

bendera pun terkembang dengan sempurna

fyuh.

(btw ini kejadiannya di Kuta pas apel HUT Pramuka)
Tapi kelegaan hati saya hanya berlangsung sebentar. Suasana mendadak awkward karena bendera berkibar tanpa iring - iringan lagu ataupun nyanyian. Krik banget. Dirijen gak ada, mau nyanyi pun canggung kalo sendirian. Upacaranya berasa berjalan dalam mode 'mute'.

Mengeheningkan cipta pun demikian.

Apel pengibaran bendera pun usai. Semua peserta bubar dan pulang ke rumah masing - masing. Termasuk saya.

Sorenya kami ngumpul lagi untuk apel penurunan bendera. Apel pengibaran aja jarang ikut, apalagi apel penurunan bendera. Nonton di TV pun gak ngikutin banget. Jadi gambaran saya tentang apel penurunan bendera hampir nol. Saya mengira bakal sama kayak pengibaran bendera. Ada pembacaan pancasila dan pembukaan undang - undang, dan sebagainya. Ternyata cuma nurunin bendera doang, udah. Dan lagi - lagi tanpa iring - iringan lagu dan nyanyian. -____-

Upacara berlangsung gak lebih dari 10 menit, yang dateng pun sedikit banget. Berasa gak lagi upacara. ZZZZZZZ

Ini total peserta dan petugas yang dateng apel penurunan bendera (yang motoin gak termasuk)



Read More