Showing posts with label bali. Show all posts

Saturday, November 19, 2016

UBUD WRITERS AND READERS FESTIVAL (UWRF) 2016

  No comments
November 19, 2016


Salah satu hal yang gak sempet saya lakukan ketika sedang fokus bikin video adalah nulis di blog. Idealnya saya bayar orang untuk ngedit video, jadi saya fokus untuk bikin konten aja dan melakukan hal lainnya. Tapi untuk membiayai hidup saya sendiri aja susah, gimana mau bayar orang untuk editing?!

Padahal saya sudah lama sekali pengen cerita tentang Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2016 ini. Fotonya sampe basi kesimpen di kamera dan hape saya. Saya masih kebayang gimana capeknya selama seminggu pergelaran acaranya, saya hampir selalu bolak - balik Denpasar - Ubud. Tujuan utamanya bukan untuk ke festivalnya, tapi nemenin temen dari Jawa yang jauh - jauh dateng ke Bali demi acara ini.

Saya paling gak bisa kalo ada temen dari luar Bali, main ke Bali, tapi saya ga nemenin. Membantu dari jauh lewat hape itu rasanya bersalah banget. Prinsip saya, mereka harus saya bantu dan beri kemudahan selama ada di Bali.

Meski pada akhirnya saya tidak mampu menjalankan tanggung jawab yang saya buat untuk diri saya sendiri. Saya gak bisa nemenin temen saya ini sepanjang acara karena kebentur pekerjaan. Disaat yang sama kantor saya juga banyak event di Denpasar. Alhasil saya ke Ubudnya bolong - bolong. Parahnya lagi, saya gak bisa nemenin temen saya di hari - hari terakhirnya dia di Bali. Jadwalnya bentrok dengan agenda saya di kantor. Bukan hanya bersalah karena gak sempet say goodbye, tapi saya juga merasa bersalah karena belum ngasi kenang - kenangan. Minimal baju barong. :'(

Atau gantungan kunci ikonik dari Bali, yang sekarang bentuknya sudah dimodifikasi menjadi benda - benda lain. Benda itu bisa kalian lihat di video saya tentang nama panggilan otong orang Indonesia. Saya memakai benda itu untuk properti dalam video tersebut. Hehe

Meskipun gak setiap hari ke acaranya, rasanya lumayan pegel juga. Mungkin karena ditambah kerjaan di kantor yang lagi banyak - banyaknya. Tapi pada kala itu adalah jumlah kunjungan saya  ke ubud dalam seminggu terbanyak yang pernah saya lakukan. Selama ini saya gak pernah inget jalan ke Ubud. Tapi karena momen ini, saya bukan inget lagi, tapi hapal! Sekaligus badan pegel, pulang pergi setidaknya tiga kali dalam seminggu ke Ubud itu capek banget asli.

Tapi saya senang. Saya dari 2009 sudah tau tentang acara ini. Tapi gak pernah kesampean. Pada tahun ini akhirnya kesana juga. Acaranya padet, dengan bintang tamu yang keren - keren. Bertemu orang - orang hebat, dan dapet tontonan gratis (tapi ada juga yang premium sih alias berbayar). Kalian googling aja 'Ubud Writers and Readers Festival 2016'. Apalagi venue-nya. Ya ampuuun, keren parah. Saya nyesel karena gak menyiapkan apapun untuk bikin videonya. Padahal lokasi, tata panggung, dekorasi, dan pertunjukan - pertunjukan yang ditampilin kacauuu.. kece gila! Bener - bener saya kecewa banget pada diri saya sendiri.

Saya akhirnya hanya menyaksikan, benar - benar menikmati acaranya. Tanpa berniat merekam ataupun mengambil gambar. Enak juga berada dalam suatu acara tanpa berambisi mengabadikan semua momen yang ada. Saya hanya sesekali saja mengambil gambar. Ketika sesi berfoto dengan bintang tamu, serta pertunjukan di panggung utama.

Panggung talkshow

Panggung utama

Panggung bawah

Richard Oh memberi penjelasan sebelum filmnya diputar, dia berdiri di depan layar, di seberang panggung talkshow

Pembacaan puisi
Saya senang karena akhirnya bisa ketemu dengan Joko Anwar. Meski saya gak sempet berfoto bersama karena malu, dan terlalu ngantuk pada saat itu. Ternyata dia aslinya sekocak timeline twitter-nya. Penuh senyum dan canda. Serta tinggi. Saya kagum dengan dia karena twit-twitnya, karyanya, dan sesekali sensasinya yang gak cuma sensasi tapi juga cerdas. Seperti saat taruhan jumlah follower dengan imbalan belanja dalam keadaan telanjang. Tanpa banyak orang sadari, dia mendokumentasikan semuanya dengan keren banget.

Joko Anwar menerima wawancara dari media

Meski di film yang saya tonton di UWRF, dia sebagai pemeran utama di filmnya, ceritanya sangat sulit saya cerna. Berasa membaca karya sastra tingkat tinggi. Mungkin ini semua karena kemampuan saya yang terbatas. Kekekekekek

Judul filmnya adalah Melancholy Is a Movement. Saya gak tahu apakah ini cerita tentang (A) cowo yang gak bisa move on dari kucingnya yang mati, atau (B) sutradara yang idealis tapi terjepit masalah ekonomi, atau (C) bintang film yang filmnya sedang tayang. Jadi tiga topik tadi adalah inti ceritanya, cuman saya bingung adegan A yang mana, adegan B yang mana. Semua dicampur aduk dengan cerdas oleh Richard Oh, sebagai sutradara. Saya bengong bego gak ngerti barusan film yang saya tonton sebenernya ceritanya tentang apa?

Richard Oh dan temannya

Joko Anwar sendiri, yang biasanya galak kalau ngasi komentar tentang sebuah film atau kejadian sosial di negeri ini, dalam film ini ekspresinya lebih cool, lebih kalem. Ngomong seadanya, ekspresi secukupnya. Atau jangan - jangan emang kayak gitu akting yang bagus??

Yang unik lagi dari UWRF 2016 ini penonton harus muter tempat duduknya setiap pergantian satu acara ke acara lain. Karena layar, panggung talkshow, dan panggung utama letaknya mengelilingi penonton.

Sesi tanya jawab kepada bintang tamu

Sayangnya ketika sesi Dewi Lestari keesokan harinya, padahal acaranya deket Denpasar, saya juga gak bisa hadir. Semoga tahun depan saya bisa ikut lagi, dan bikin videonya. Ini juga jadi pelajaran untuk saya agar menandai event besar yang terjadi, dan menyiapkan semuanya agar bisa divideoin. Karena ngomong - ngomong saya juga melewatkan Nusa Dua Fiesta yang ketika tulisan ini dibuat acaranya sedang berlangsung, gak bisa saya liput karena kurangnya persiapan. Sedih banget.


Read More

Thursday, November 10, 2016

UMAT HINDU BALI ULANG TAHUN 2X SETAHUN

  No comments
November 10, 2016


Hai!

Saya baru saja upload video terbaru.

Ga terlalu banyak hal yang mau saya katakan tentang video saya kali ini. Yang pasti, saya akan terus berjuang membuat video yang lebih berkualitas lagi. Akan terus belajar menjadi videomaker/ youtuber yang lebih baik lagi. Mohon dukungannya. :)

Sekilas tentang video ini, bagi kalian yang pengen melihat bagaimana prosesi upacara perayaan hari kelahiran umat Hindu di Bali, kalian cocok untuk menonton video ini. Dalam video ini juga kalian akan tahu kenapa umat Hindu di Bali merayakan hari kelahiran 2x dalam setahun.

Jika kalian suka, silakan  like dan share video ini. Karena apapun dukungan kalian sangat berarti bagi saya, dan nafas saya dalam berkarya. Bahkan kalo kalian ternyata gak suka, kalian bisa ngasi kritik, saran, dan dislike video ini! Bebaaas

Sebagai penutup, maaf kalo ada yang kurang berkenan dengan video ini. Saya sama sekali tak bermaksud menyakiti kalian. Saya selalu berharap kalian menikmati video - video saya. :)

Selamat menonton!




Read More

Saturday, October 8, 2016

JADI BURONAN PECALANG GARA - GARA KIPEM

  No comments
October 08, 2016


Kalau kamar lain pintunya diketok, itu si pacar yang dateng hendak berkunjung. Kalo pintu kos saya sih gak pernah diketuk, tapi digedor, sama pecalang.

Kayaknya dari 8 kamar yang ada di kos ini, hanya kamar saya yang penghuninya gak punya pacar. Dan selama dua minggu ini sudah lebih dari 6x bapak pecalang mondar mandir ke kos nyariin saya.

Dia jarang berhasil menemui saya karena biasanya dia datang pas saya lagi gak di kamar. Entah nyari makan, atau lagi kerja. Eka, ponakannya ibu kos, yang juga tinggal di kos, biasanya ngasi tahu kalo ketika saya pergi pak pecalang nyari saya. Saya jadi inceran pecalang gara - gara belum ngurus kipem.

Kipem adalah singkatan dari Kartu Identitas Penduduk Musiman. Tinggal di Denpasar sebagai anak kos, dengan status bukan lagi pelajar, baru kali ini saya dimintai kipem dengan serius. Selama ini hanya diminta uang keamanan sekali dalam setahun. Nominalnya pun gak lebih dari 30 ribu. Cuma di kos saya sekarang ini saja bulan lalu sudah ada pecalang yang minta uang keamanan dan ngasi kartu tanda bukti bayar, dan sekarang dimintai kipem lagi. Kirain uang keamanan itu sama dengan kipem kayak kos saya yang udah - udah.

Pertama kali pak pecalang dateng, dia ngasi tau syarat pembuatan kipem adalah fotocopy KTP dan foto 2x3 3 lembar (plus uang 100rb, saya tahu masalah uang ini dari Eka). Hari itu dia dateng sudah malem, sekitar jam 7-an. Karena persyaratan saya belum lengkap, pak pecalang ngasi saya waktu. Saya langsung pergi, rencananya sih nyetak foto, cuman setelah saya pikir - pikir, besok pagi saja ngurusnya. Eka nge-BBM saya ngasi tau kalo pak pecalang dateng lagi sekitar jam 9-an, nyari saya. Eka sudah bilang ke pak pecalang kalo saya lagi keluar. Karena gak ketemu dengan saya, pak pecalangnya langsung pergi.

Besoknya saya pergi ke tukang cetak foto. Ternyata mereka gak bisa transfer foto dari hape lewat kabel. Mereka ngaku gak punya kabel data. Padahal kalo mereka niat, salah satu dari pegawai mereka pasti punya. Hari gini gak punya kabel data? Emang hape lo iPhone semua?!


Salah saya sendiri gak bawa kabel data. Keputusan yang salah bersikap optimis mengira mereka akan punya kabel data. Ngirim lewat bluetooth pun gak banyak menolong. Sudah 30 menit tapi transfernya baru 16 persen!

Karena udah canggung banget duduk di depan komputer tokonya transfer foto sedangkan customer lain udah pada nungguin, saya putusin untuk cancel nyetak foto hari itu. Saya permisi sama mbak pegawainya dan bilang mau nyari flashdisk biar gampang mindahin fotonya.

Tiga hari berselang, saya gak pernah ketemu pak pecalang lagi. Soalnya saya sempet gak ke kos 2 hari. Menghadiri wisudanya adik, dan ke kampungnya Ayah di Buleleng dalam rangka acara 6 bulanannya ponakan.

Nyampe kos malemnya langsung di-BBM oleh Eka, ngasi tau kalo besok pagi jam 7 pak pecalang mau dateng minta berkas - berkas kipem. Padahal saat itu saya belum nyetak foto. Besoknya beneran jam 7 kurang sedikit pak pecalang dateng. Saya kasi uang dan kopian KTP. pak pecalangnya nolak, musti dilengkapin dulu. Dia ngasi deadline sampe entar sore ---dan kali ini syaratnya berubah lagi, 3 lembar fotocopy KTP dan 3 foto 2x3 atau 3x4 (duitnya tetep).

Di kantor saya minjem flashdisk dewi karena saya gak punya flashdisk. Saya gak jadi nyetak, jadinya ngeprint di tempat ngeprint, pake kertas foto. Lumayan 4000 perak dapet banyak. Kertas yang dipake nyetak ukuran A3, diisi penuh dengan foto ukuran 4x6,2x3,3x4 dengan mode color dan hitam putih. Nanti saya tinggal motong. Meski hasil cetaknya gak sebagus nyetak di cetak foto, tapi masih bisa diadu. :))

Sesuai janji tadi pagi, jam 5 sore kurang dikit pak pecalang dateng lagi. Semua berkasnya saya kasi. Dia gak ngasi bukti pembayaran. Dia berjanji kartunya selasa depan udah jadi dan dia langsung bawa ke kos. Kalau sebelum itu ada sidak dan saya dimintai kipem, sebut saja namanya dia katanya.

Baiklah, kita lihat saja bagaimana kelanjutan kisah kipem ini kelak. Saya sih berharapnya gak terjadi yang aneh - aneh.




Read More

Thursday, August 25, 2016

TERTIPU VOUCHER SANUR FESTIVAL 2016

  No comments
August 25, 2016


Emm.... Jadi gini.

Dua minggu yang lalu mahasiswa PKL dateng ke lab mau ketemu sama kepala bidang pengawasan. Ketika itu hanya saya yang ada di lab, sedang nguji sampel. Sembari menunggu, mereka ngasi saya semacam kupon makan yang bisa ditukar di Sanur Festival.


Mereka dapet dari orang yang mereka temui di kampus. Karena dapetnya cukup banyak, dikasi sebagian ke kami-kami analis di lab. Tertulis angka - angka rupiah di kupon itu. Dikatakan juga pada kupon itu kalau itu adalah voucher yang bisa ditukarkan di stand - stand makanan yang tertera di voucher tersebut saat SanFest nanti. Yang jadi pertanyaa, apakah tinggal dituker aja, atau musti bayar seharga yang tertera disana (semacam promo potongan harga)?

Saya add pin BB yang tertera di voucher itu. Malemnya baru mereka approve. Setelah saya tanya - tanya, kesimpulan sementara adalah pihak panitia memang nyediain voucher yang dibeli seharga 50ribu. Kalau dikasi gratis, itu brosur.

Saya masih gak percaya. Pihak panitia pun gak bisa mastiin saat itu juga karena belum melihat bentuk voucher yang saya pegang. Kebetulan ketika itu saya belum punya foto vouchernya, dan vouchernya saya taro di kantor. Besoknya pas ke kantor, saya segera jepret vouchernya dan saya kirimkan ke pihak panitia. Nunggu beberapa saat, panitianya bales.

Jawaban mereka tetep sama, bahwa itu brosur. Dan saya pun tetep pada pendirian saya kalo ini adalah voucher yang mereka maksud sebelumnya. Pertama: agak aneh kalau ada brosur tapi bentuknya kayak kupon-kupon yang siap robek. Kedua: masih ada peluang pihak panitia miskomunikasi dengan crew yang menyebar voucher ini, harusnya bayar, tapi mereka kasi gratis. Ketiga: Saya minta gambar voucher yang bener kayak gimana, mereka gak bales - bales. Makin bikin curiga kalo disini terjadi kesalahan di intern panitia.

Hampir dua minggu menunggu, akhirnya Sanfest pun resmi dibuka. Malemnya saya kesana, sendirian [gak ada yang bisa diajak, #foreveralone :((( ] Dari rumah kuponnya udah saya sobek - sobek sesuai rule yang sudah ada di kupon (seperti di karcis parkir).


Meski namanya Sanur festival, bukan berarti acaranya di pantai Sanur. Lokasi tepatnya adalah di pantai Sindhu, di lapangan deket hotel Inna. Dari perempatan McD Sanur masuk ke timur. Ketika saya kesana udah rame banget. Parkir untuk sepeda motor harganya 5000, untuk Tank saya belum sempet nanya.

Ternyata saya parkir agak jauh dari acara. Lumayan pegel kalo dari tempat parkir ke lokasi acara dengan cara jalan bebek. Baliho berisi jadwal kegiatan terpajang di dekat pintu gerbang utama. Sanfest berlangsung 5 hari, dari tanggal 24 sampe 28 Agustus 2016. Di depan gerbang udah ada pihak pengaman gabungan dari kepolisian, TNI, hansip, satpam, FBI, dan CIA memeriksa isi tas pengunjung yang mau masuk.

Di dalem keadaannya udah rane banget. Pegawai yang punya stand saling nawarin barangnya. Di panggung ada bapak - bapak sedang ngasi sambutan. Yang duduk di kursi depan panggung menyimak, pengunjung yang duduk kursi depan stand makan - makan, yang duduk di kursi DPR tidur ketika sidang.

Gak isi pikir panjang, saya langsung nyari stand - stand yang dimaksudkan di voucher. Soalnya kalo makin lama disini bisa kebawa arus pengen belanja.

Untungnya meski lokasi acaranya luas banget, stand yang saya cari ada tepat di seberang lautan panggung. Jadi gak makan waktu untuk mencarinya. Pegawainya sedang membagikan voucher yang sama seperti yang saya punya ke pengunjung - pengunjung yang lewat stand mereka. Dari sini perasaan saya mulai gak enak.

Saya pun nanya ke pegawai yang nyebarin brosur, 'Mas, ini sistem penukaran vouchernya gimana ya?"

"Wah, maaf mas, itu cuma brosur, kalo mau belanja, tingga dateng ke stand dan bayar disana."

Ternyata saya selama ini salah paham. Udah salah, pake nyolot.  -____-


Read More