Showing posts with label film. Show all posts

Wednesday, April 12, 2017

BEAUTY AND THE BEAST (2017) - INI HOLLYWOOD APA BOLLYWOOD?!

  No comments
April 12, 2017


Sempat gagal dalam usaha sebelumnya dan akhirnya tanpa sengaj nonton Power Rangers, saya kesampaian juga nonton Beauty and the Beast.

Kesan pertama nonton, pembukaannya keren dimana castle ikonnya Disney berubah sedikit menjadi castle the Beast menyesuaikan dengan filmnya.

Disney masih konsisten dalam cinematografi dan efek - efek yang digunakan. Mirip dengan Cinderella atau Alice in Wonderland.

Yang baru saya sadari adalah Beauty and the Beast adalah film musikal. Sepanjang film dipenuhi dengan nyanyi - nyanyi. Kebanyakan nyanyi daripada cerita yang mau disampein. Galau, nyanyi. Sedih, nyanyi. Seneng, nyanyi. Lagi nyanyi, nyanyi.


Saya berasa nonton film India. Minus selendang dan tarian di kebun bunga serta mengitari pohon besar.

Saya bahkan sempat curiga jangan - jangan di akhir cerita saat kutukan pangeran hilang, the Beast bukannya jadi pangeran, tapi jadi Shah Rukh Khan.

Dan isu yang beredar ternyata benar, Beauty and The Beast juga sedikit mengangkat tentang orientasi seksual sesama jenis.Kayanya hollywood memang sedang gencar mengangkat topik ini sebagai kampanye dukungan terhadap LGBT.


Read More

Saturday, April 8, 2017

POWER RANGERS (2017) --- NOT BAD

  No comments
April 08, 2017


Sensasi yang berbeda.

Itu yang saya cari ketika menonton film yang diangkat dari kisah nyata, atau dari dongeng. Saya sudah tahu endingnya, tapi rasa penasaran akan pengalaman yang berbeda yang membuat saya tetap ke bioskop. Misalnya saja menonton Beauty and the Beast.

Saya sudah tahu endingnya, Emma Watson sebagai pemeran utama wanita juga tidak terlalu menarik perhatian saya (saya pernah menonton dia di film Colonia dan aktingnya B aja). Kartunnya apalagi, dari TV, VCD, sampai DVD sudah pernah saya tonton. Yang berbeda kali ini adalah kemegahan efek animasi Disney yang ingin saya lihat.

Saya dan Dewi sampai Denpasar Cineplex jam 2 siang. Ketika itu hari jumat, jam kantor saya sampai jam 1, jadi hitungannya saya gak bolos kerja. Selain sama Dewi, Ayu dan Gek Lia mengaku sudah di jalan akan menyusul kami kesana. Tia dan Dian gak jadi ikut. Tia ada acara di rumahnya, sedangkan Dian sakit gigi.


Parkiran Cineplex udah penuh banget. Saya dapet di parkiran dalem, sedangkan Dewi musti muter ke parkiran utara dan di pinggir sekali dari bahu jalan utama. Padahal hari itu bukan hari libur ataupun malam minggu, tapi yang dateng banyak banget.

Saya kira abege-abege Denpasar akan memilih bioskop di Level 21 yang baru buka yang lebih prestise untuk ajang pamer di sosmed. Rupanya dompet mereka ga bisa bohong.

Saking penuhnya, kami kebagian yang jam 7 malem, mundur 4 jam dari jam janjian jam 3 sore. Puas dah saya lihat cabe sampe kering disitu.


Itu pun kami kebagian film Power Rangers! Asli gak enak banget sama Gek Lia dan Ayu. Mereka sudah jauh - jauh dari Bukit Jimbaran, ngebayangin nonton Beauty and the Beast, dapetnya beginian.

Yang pertama datang setelah kami adalah Gek Lia. Dengan wajah lugunya dia mendekati meja kami. Baru duduk sebentar saya langsung minta maaf ke dia soal film yang akan kami tonton. "Power Rangers itu apa?" itu respon pertamanya.

-_________________________-"

"Serius kamu gak tahu?"

"Tahu kayanya, pas saya TK"

Saya makin merasa bersalah.

Kemudian datanglah Ayu dengan gaya khasnya, terburu - buru, keringetan, dan terengah - engah. Kayanya hidupnya dia gak ada selonya. Saya ke meja sebelah berniat meminta kursi yang tidak ada pemiliknya dan saya kasi ke Ayu. Tapi kata si anak yang jaga, kursinya udah ada orangnya.

Karena gak nemo tempat duduk lagi, dan ibu dari anak tadi udah dateng dan ternyata kursinya masih kosong satu, sekarang gantian Ayu yang minjem, dan si anak ngasi. Buset dah si anak kecil - kecil udah playboy.

Setelah Ayu duduk dengan tenang, saya ajukan permintaan maaf lagi. Kali ini reaksinya Ayuk lebih kalem. Cuma ketawa aja. Ketawa terkejut.

Sampe dalem bioskop perasaan bersalah masih menghantui saya. Makin kepikiran. Tapi saya coba bersikap bodo amat agar tetap bisa menikmati filmnya. Sejujurnya ini adalah film yang saya tunggu - tunggu tahun ini. Daripada Beauty and the Beast, saya prefer nonton Power Rangers. Saya sekuat tenaga menutupi antusias saya, biar gak kelihatan sengaja milih film ini.

Nonton film ini membuat sebahagia apapun masa kecil saya, rasanya masa kecil saya kurang bahagia dan baru terpuaskan di detik itu juga. Pihak pembuat film mencoba sekuat tenaga membuat film ini berbeda dengan serialnya, walau jatuhnya kostum power rangers tampak jadi monster, Alpha juga jadi aneh dengan bola mata yang keluar (padahal dia setengah robot, biarin aja kaya alpha yang dulu), serta Megazord yang kurang megah dan wah.

Kesan senang tapi kecewa ini mirip seperti menonton Dragonball Evolution dan The Last Airbender. Karena animasi atau serialnya sudah penuh action, ekpektasi penonton keduluan tinggi.

Seperti isu yang sudah beredar, yang mengagetkan adalah diangkatnya hubungan sesama jenis dalam film ini. Ranger Kuning punya orientasi lesbian.

Beberapa joke coba diangkat, tapi saya gak begitu nangkep. Mungkin hanya beberapa, salah satunya ketika Zack mengaku (ranger) Black dan disanggah secara polos oleh Billy yang seorang kulit hitam.

Megazord dibuat serealistis mungkin (masing - masing ranger berada di masing - masing tangan, kaki, dan dada Megazord, bukan ngumpul di tengah). Cara jalannya pun gak langsung mulus. Megazord isi acara terjatuh karena kedua kaki melangkah bersamaan. Ini lucu, tapi bener juga.

Sayangnya baik megazord maupun kostum Power Rangers masih kalah sama kostum superhero yang ada robotnya kaya Iron Man, Transformer, bahkan Pasific Rim.


Dan adegan bertarungnya terlalu sedikit, malah lebih menekankan ke 'pesan moral' yang ingin disampaikan dan ditunjukan. Ew


Read More

Wednesday, March 22, 2017

HACKSAW RIDGE (2016) - FILM RELIGI YANG BEDA!!

  No comments
March 22, 2017


Barusan saya sampling air laut ke Karangasem.  Rombongan kami berjumlah 4 orang. Satu sopir, pak Gusti, Bu Ewy, dan Saya. Sopir kali ini adalah pak Wayan Sama. Saya tanya ke dia nama saudaranya, ternyata nama saudaranya bukan Made Beda atau Nengah Different.

Pak Gusti adalah staf bidang 3, bidang yang berwenang mengambil sampel mulai tahun ini, sedangkan bu Ewy adalah atasan saya langsung.

Saya gak sengaja bikin kepala bu Ewy bocor. Asik ngobrol sama pak Gusti, saya ga sadar bu Ewy masih di dalam kabin belakang mobil. Saya main tutup aja pintu bagasinya. Kepentoklah dia. Awalnya saya kira cuma benjol aja, ternyata luka dan berdarah banyak banget. Saya speechless. Meski gak sengaja, saya sangat merasa bersalah. Pernah gak kalian saking merasa bersalahnya sampai mulut kalian tertutup?

Kejadiannya di pantai Candidasa. Selama perjalanan saya gak ngomong. Noleh ke belakang nengok kondisi ibunya pun enggak. Merasa gak enak soalnya. Saya hanya bisa berdoa lukanya cepet sembuh dan saya segera dimaafkan. Saya bisa ngebayangin gimana marahnya suami dan anak - anaknya bu Ewy kepada saya.

Berkali - kali saya meneriaki diri saya sendiri dalam hati,"Ibu orang itu woy!!" Bu Ewy mengobati lukanya sendiri dengan minyak yng dia bawa sendiri. Luka yang terbuka tidak berani dia kasi macem - macem. Kotak P3K pun kami tidak bawa. Untungnya sampai kami balik ke kantor kondisi bu Ewy masih stabil, dan dia gak ada ngebahas kejadian di Candidasa barusan.

Melihat darahnya bu Ewy, saya jadi inget film yang baru - baru ini saya tonton. Hacksaw Ridge.

Temanya religi, berlatar perang dunia. Awalnya tertarik pengen nonton karena Joko Anwar lewat twitternya bilang ini film calon peraih Oscar (sebelum boomingnya La La Land). Setelah nonton trailernya, Hacksaw Ridge tampak biasa aja. Pria yang menjadi tentara karena ingin membela negara dan menyelamatkan banyak tentara lain yang terluka, tapi gak mau megang senjata. Udah, gitu aja.

Ternyata saya terlalu underestimate film ini. Aslinya keren banget. Ketika saya puasa, berada di tempat makan, nyium/melihat bau makanan, atau ada orang lain yang makan saja sudah sangat mengganggu. Lah ini, Desmon (tokoh utama yang diperankan oleh Andrew Garfield) malah 'puasa' membunuh di medan perang.

Kita tahu sendiri gimana kejamnya medan perang. Berkali - kali Desmon hampir terbunuh tapi Ia tetap pada pendiriannya.

Jalan dia jadi tentara pun tidak mudah gara- gara prinsipnya ini. Ia berjanji tidak membunuh karena kepercayaan dan keyakinan yang dia anut melarang itu. Karena hal ini, berkali - kali Ia mendapat masalah di sekolah militer. Bahkan hampir dikeluarkan (dikeluarkan dari militer adalah aib yang sangat besar). Dipenjara karena dianggap pembangkang negara akibat tidak mau menyentuh senjata. Batal nikah gara - gara di hari-H dia malah masuk penjara. Diancam penjara seumur hidup. Dan masalah - masalah lainnya.


Pernah juga keyakinannya mulai rapuh. Seperti saat Ia dipenjara, dan saat di medan perang melihat sahabatnya tewas.

Tapi Ia berhasil memegang prinsipnya. Puncaknya ketika hari sudah malam, sendirian, tanpa senjata, menurunkan semua teman - teman terluka tapi masih bernafas. Bahkan ketika Ia sampai pada batas ketahanan fisiknya pun Ia tidak menyerah menyelamatkan lebih banyak orang (bahkan musuhnya sekalipun). Disinilah keluar kutipan paling terkenal dari film ini.


Buat saya sendiri kata - kata Desmon yang 'saya banget' ketika Ia frustasi melihat sahabatnya mati dan pasukannya dipukul mundur musuh. Ia bingung apakah jalan yang Ia jalani selama ini sudah benar. Hingga Ia berkata kepada Tuhan,"Aku tidak bisa mendengar-Mu". Kata - kata yang juga selama ini saya teriakan pada-Nya.

Dan dilanjutkan dengan berkata:


Film religi ini beda banget dengan film religi disini. Meski beriman tapi gak alim - alim banget, masih kenal yang namanya ciuman dan pacaran, serta pemeran utama disiksa dengan penderitaan - penderitaan yang pas. Mampu memainkan emosi, tapi gak lebay kayak sinetron - sinetron disini. Dan tentunya gak isi adegan pemeran utama mampu membuat orang yang dia sukai pindah agama seperti template film - film religi Indonesia saat ini :)))

Oia, mumpung saya inget, satu lagi yang menarik dari Hacksaw Ridge sudah pasti pemeran wanitanya. Cantik gak selalu seksi. Oh indahnya dirimu Teresa Palmer.



Read More

Sunday, March 12, 2017

The Danish Girl (2015) - Suami Jadi Transgender Gara - Gara Istri

  No comments
March 12, 2017


Mungkin kalau ngomongin transgender di jaman sekarang, kontroversinya paling cuman di etika di masyarakat dan dari soal agama. Namun lain hal jika operasi transgender dilakukan di tahun 1920.

Itulah kurang lebih garis besar cerita dari The Danish Girl. Film ini menceritakan tentang operasi pergantian kelamin pertama (yang tercatat sejarah) yang dilakukan oleh manusia. resiko kematian akibat operasi masih sangat besar karena obat medis di kala itu belum secanggih dan selengkap sekarang.

Elbe dan Gerda adalah pasangan suami istri yang sama - sama bekerja sebagai pelukis. Gerda, sang istri, yang kesehariannya melukis dengan tema potrait tak bisa menunggu lagi modelnya yang terlambat datang. Ia meminta suaminya untuk menggantikan sang model untuk sementara. Hanya untuk mengambil contoh bentuk tubuh dan pakaian. Disinilah ketika Elbe diminta berpose layaknya perempuan, memakai sepatu perempuan, dan memegang pakaian perempuan selama Ia dilukis istrinya, jiwa lamanya yang terpendam perlahan muncul kembali.

Gejala ini sudah muncul ketia Elbe masih kecil. Ketika itu dia tidak mampu menahan hasrat untuk mencium Hans, temannya yang seorang anak laki - laki. Setelah itu Ia mampu membunuh dirinya yang lain jauh di dalam hatinya. Tapi kini, sosol Lili (Elbe versi wanita) yang telah lama mati bangkit dari kuburnya. Pelan - pelan Elbe mulai menyukai fashion wanita, bahkan suka memakai pakaian dalam istrinya.

Istrinya yang tidak mengetahui detail masa lalu suaminya sempat bingung dengan perubahan istrinya. Hanya saja Ia tidak begitu mempertanyakan perubahan suaminya.


Terlebih lagi secara mengejutkan, lukisan-lukisannya yang biasanya selalu gagal mendapat persetujuan sponsor untuk dipamerkan, ketika Ia memakai model suaminya sebagai model perempuan, sponsor dan orang - orang yang melihat malah menyukainya. Mereka penasaran siapa sosok di lukisan itu. Gerda sendiri menyembunyikan identitas asli model dalam lukisan itu dan mengatakan model di lukisan itu adalah Lili, sepupu dari suaminya.

Demi persiapan pamerannya di Paris, Gerda terpaksa berulang kali melukis Elbe sebagai Lili. Elbe pun makin betah dengan jati diri sebagai Lili. Elbe malah merasa kalau Lili adalah dirinya yang sebenarnya, dan enggan kembali sebagai Elbe.

Dilema dialami Gerda. Di satu sisi Ia tak ingin suami yang Ia sayangi, yang Ia kenal sangat menyayangi dia, berubah jadi Lili. Tapi di satu sisi Ia harus mengejar kesempatan untuk mewujudkan mimpinya yang mungkin hanya datang satu kali seumur hidup.

Akhirnya Gerda membiarkan suaminya makin terhanyut menyelami perannya sebagai Lili. Ia tidak sanggup melihat kegelisahan dan raut kesakitan di wajah suaminya kala suaminya menjadi Elbe. Di satu sisi, Ia juga tengah fokus dengan pamerannya.

Gerda memutuskan mengajak suaminya pindah ke Paris. Di Paris mereka bertemu doktor yang baru menemukan metode operasi transgender. Operasi berlangsung dua tahap. Pertama pelepasan alat kelamin pria. Ketika luka sudah sembuh dan pasien dianggap siap, barulah dilakukan operasi tahap kedua yaitu pembuatan alat kelamin wanita.


Puncak konflik terjadi di adegan ini. Bagaimana perjuangan Elbe/Lili menghadapi operasinya. Ketegaran Gerda sebagai istri dari suami yang transgender dan di saat bersamaan Hans (teman masa kecil suaminya) yang awalnya diminta tolong membantu kesembuhan Lili agar kembali jadi Elbe malah balik ingin selingkuh dengan Gerda.

Wajar Eddie Redmayne mendapat nominasu Academy Award sebagai pemeran pria terbaik untuk film ini. Jika dibandingkan dengan perannya sebagai Newt Scamander di Fantastic Beasts and Where to Find Them beda banget!

Dan ada adegan paling ditunggu saat Eddie Redmayne telanjang di depan kaca. Tapi kayanya kelamin pria yang disorot kameran milik stuntman.





Yang bikin saya gak habis pikir adalah Ben Whishaw. Kenapa dia selalu dapet peran gay? Di Cloud Atlas pun Ia mendapat peran sama. Setidaknya di The Danish Girl saya gak perlu melihat pantatnya seperti ketika Ia bugil di Cliud Atlas.





Read More

Thursday, March 9, 2017

COLONIA (2015) -- AKTING EMMA WATSON B AJA

  No comments
March 09, 2017


Saya selalu salah sebut judul film ini. Sering kepleset jadi Colonial (pake L di akhir).

Merupakan film Emma Watson pertama yang saya tonton setelah perannya di Harry Potter. Aktingnya B aja sih. Mungkin karena memang perannya disini tidak tidak terlalu aneh. Hanya seorang wanita biasa, berusaha membebaskan pacarnya yang seorang aktivis yang ditangkap pemerintah gara - gara mencoba melengserkan pemerintahan.

Yang bikin kaget malah lawan mainnya. Daniel Brühl. Dia sangat berbeda dari film terakhirnya yang saya tonton, Burnt. Di Colonia penampilannya seksi, maskulin, urakan, dan berantakan dengan rambutnya yang Ia biarkan panjang. Di pertengahan film Ia menjadi pemuda dengan keterbelakangan mental akibat disiksa oleh petugas keamanan. Padahal di Burnt dia jadi pria rapi dan gay.



Colonia adalah nama penjara di Cili. Tempat orang secara diam - diam menyiksa tahanan pendemo pemerintah, dan melakukan pelecehan seksual terhadap anak - anak.


Read More

CLOUD ATLAS (2012) -- BIKIN BINGUNG & MELELAHKAN

  No comments
March 09, 2017


Intinya film ini pengen bilang kalo hidup kita saat ini, ada kaitannya dan pengaruhnya dengan kita di kehidupan yang lalu. Cara sutradara menyampaikannya dengan membuat film, dengan 6 plot cerita, dari 6 masa. Dimana pemain yang sama hidup di semua masa, tapi jiwa/roh si tokoh utama diperankan oleh para artis secara bergantian.

Ini yang bikin bingung. Misal nenek moyang tokoh utama pada kehidupan ke-1 diperankan oleh A, di era selanjutnya Ia lahir kembali dengan muka B (dimana di kehidupan ke-1 si B berperan sebagai musuh si A). Begitu terus muter sampai kehidupan ke-6. Semua pemain dapet bagian menjadi renkarnasi si tokoh utama.


Saya yang nonton tanpa pernah baca previewnya dibikin pusing sepanjang 5/6 cerita. Film ini sangat panjang. Sampai 3 jam! Dan di 2 setengah jam cerita film baru saya mulai mengerti tentang jalan cerita film ini.

Cloud Atlas adalah film yang melelahkan. Durasinya gak mau kalah dengan film - film bollywood. Sepanjang film saya berkali - kali melihat jam. "Ini kapan selesainya..?" pikir saya, selain juga berkali - kali bertanya - tanya,"Ini maksudnya apa? Orang ini siapa??"


Read More

Wednesday, March 8, 2017

BURNT (2015)

  No comments
March 08, 2017


Burnt berhasil memuaskan harapan saya dari sebuah film bertema kuliner. Mata saya dimanjakan oleh penampakan makanan - makanan enak, serta proses membuatnya yang sudah seperti melukis di atas kanvas.

Awalnya saya kira Burnt ini adalah sekuel, karena di awal diceritakan tokoh utama baru terbebas dari hukuman, lalu mulai menyatukan puing - puing kehidupannya kembali. Cuman setelah saya cari, ternyata Burnt adalah film tunggal. Steven Knight sebagai penulis cerita sukses menyampaikan masa masa lalu dengan baik melalui dialog - dialog antar tokoh, dan dari adegan - adegan yang dialami si tokoh utama. Meski tidak ada adegan flaskback ke masa lalu, saya bisa tahu kurang lebih apa yang terjadi di masa lalu pada film ini.

Saya ikut merasakan ketegangan yang terjadi di dapur di balik sebuah restoran. Saya jadi mengerti, dibalik makanan yang kita santap saat berkunjung ke tempat makan, ada keringat dari pembuatnya, ada tekanan mental yang dialami oleh crew, dan perjuangan untuk memberi sesuatu yang sempurna kepada pengunjung.


Saya yang mental lemah ini gak kebayang jika saya berada di posisi anggota tim chef dalam film tersebut, atau bahkan di dapur restoran seluruh dunia. Mereka harus cepat, mengingat pesanan datang dalam waktu singkat, belum lagi jika pesanan yang datang sangat banyak. Kalo saya ada disitu, mungkin saya sudah jantungan bahkan sebelum restorannya tutup di hari pertama saya bekerja.

Fakta mencengangkan saya dapat dari film ini. Ternyata, banyak dari kita underestimate kepada restoran-restoran cepat saji. Citra mereka dalam benak kita sudah terlanjur buruk karena kualitas kesehatan dalam kandungan makanannya. Padahal kalo dari dunia kuliner, restoran cepat saji memiliki satu kekuatan besar yang menjadi syarat sebuah restoran bisa dikatakan bagus.

Hal itu adalah: konsisten.

Baik dari rasa, takaran bumbu dan bahan makanan, ukuran dari masang - masing makanan yang disajikan.


Kalau menurut saya sih karena memang resto kayak mekdi atau kfc resep dan cetakan bahannya sudah template, makanya bisa konsisten dari segi rasa dan ukuran. Sedangkan resto - resto khususnya resto berbintang, semua ditata dan dibuat secara manual. Keahlian dan keterampilan koki sangat berpengaruh disini. Makanya mahal, karena ada effort yang sangat besar dalam prosesnya.

Satu lagi yang saya pelajari dari film ini adalah semua benda yang diletakkan di dalam piring pengunjung, bukan sekedar hiasan biar cantik semata. Semua bisa dimakan. Koki tidak akan meletakkan sesuatu yang tidak bisa dimakan di atas piring. Baik itu rerumputan, dedaunan, sampai bunga, semua layak dimakan. Dan rasanya enak! (kata filmnya)

Film ini sangat menarik. Bahkan saya sampai gak berasa pas asik nonton tiba - tiba sudah ending aja, saking terhanyutnya saya dalam tiap adegan - adegan yang ditampilkan. Serta hasil dari tangan dingin sutradara John Wells mengarahkan setiap adegan dan akting para pemainnya.




Read More

Thursday, September 29, 2016

Dragon Blade, Ketika Peran Jackie Chan Terlalu Superior

  No comments
September 29, 2016


Baru kelar nonton film Dragon Blade. Tentang usaha Huo An (Jackie Chan) menjaga perdamaian di jalur sutra pada masa dinasti Han.

Secara keseluruhan film ini biasa saja. Enggak terlalu seru, gak terlalu jelek. Filmnya baru mulai 'panas' di 30 menit terakhir, ketika Jackie Chan dikhianati dan jadi buronan. Istrinya mati, putra bungsu kaisar bunuh diri bersama pengasuhnya karena hendak ditangkap kakaknya sendiri, dan Jackie Chan harus membunuh temannya sendiri.

Filmnya ada unsur komedinya juga. Misalnya ketika Jackie Chan bertarung satu lawan satu melawan putri sebuah negara dan tanpa sengaja melepas cadar si putri. Sesuai adat negara asal si putri, Jackie Chan harus menikahi putri tersebut. Jackie Chan menolak karena dia sudah punya istri. Dia kabur dan putri mengejarnya. Sampailah saat Jackie Chan dan istrinya terjebak di dalam rumah sedangkan di luar para tentara sudah mengepung dan memanahi mereka. Putri itu menolong mereka. Sambil mengelak dari serangan para tentara, seorang anak yang sedang bersama mereka bertanya ke putri,"Kamu siapa?"

Sambil manah - manahin tentara si putri menjawab,"Aku istri Huo An."

Bingunglah istri Huo An yang asli dan anak - anak yang ada disana, sedangkan Jackie Chan mengalihkan pembicaraan dengan menyuruh mereka segera naik ke lantai dua agar tidak keburu kena panah para tentara.


Penulis ceritanya tampak nyari aman disini. Biar situasi tidak menjadi komedi, atau drama, istri asli Huo An dibuat mati terpanah gara - gara nyelametin anak yang dengan gobloknya dalam situasi genting seperti itu berhenti dan berbalik demi ngambil buku pelajaran. Nanti aja nyari bukunya di Gramedia bisa kali.

Dengan matinya istri Huo An, Huo An alias Jackie Chan sekarang gak perlu pusing lagi mikirin nama siapa yang harus dia sebutkan sebagai istrinya ketika ngurus kartu KK di kantor camat kerajaan.

Peran Jackie Chan cukup superior di film ini. Itu terlihat dari kuatnya dia di film ini, gak mati - mati. Udah kayak kucing aja, nyawanya sembilan! Padahal kalo tokoh lain, kena gaplok sekali aja langsung mati.


Dia udah kena tusuk panah di pundak (yang ini lukanya kecil sih), kaki kanannya tertembus panah, perut bagian kirinya bolong oleh tentara Roma, sampe ditusuk di pinggang bagian kanan oleh raja Roma pun dia masih bisa gerak.

Harusnya biar sekalian perannya makin menonjol, ceritanya diubah di bagian ending, biar dia yang jadi raja Roma selanjutnya menggantikan keturunan raja yang udah mati semua. Gapapa kaisar Roma mukanya gak ada Eropa-eropanya, kan dia pemeran utama.

Untungnya nalar sang sutradara masih bagus. Perannya cuma sampai ke pembawa perdamaian di jalur sutra (yang tak bisa mati).

Sang sutradara juga mencoba memberi kesan dramatis pada film ini ketika membuat adegan duel antara Huo An dengan kaisar Roma. Jackie Chan dibuat kalah dulu. Bahkan hampir sekarat. Meski saya sudah tau, dengan begitu banyak luka yang diderita Jackie Chan dari awal perang sampe sekarang tapi dia gak mati - mati, ini semua pasti diatur untuk momen pamungkas dimana Jackie Chan jadi pahlawan yang ngebunuh kaisar Roma. Gak mungkin dia beneran kalah dan mati.

Bener aja, dengan tangan kosong, dia mampu mematahkan tangan kaisar Roma dalam sekali pukul gara - gara kemarahannya yang besar mengingat kematian temannya. Yaelah kalo gitu kenapa gak dari tadi aja, kutu! Kenapa pake duel pedang dulu?!


Dan dengan sekali tebas juga, kaisar Roma kalah, tapi belum mati. Kaisar Roma mati dengan cara bunuh diri gara - gara ketika dia minta tolong ke prajuritnya, prajuritnya gak mau karena mereka tahu kenyataan bahwa si raja tega membunuh ayah dan adiknya demi tahta. Mungkin skenario ini dibuat agar tidak menyinggung Italia, gak enak aja kan kalo bikin adegan raja Roma dibunuh oleh negara lain. Nanti Italianya ngambek, malah repot entar. :))

Yang masih saya gak ngerti adalah nasib kakak dari sang putri, berarti sekarang menjadi kakak iparnya Jackie Chan. Dia udah ketusuk saat bertempur, bahkan dibacok oleh beberapa prajurit sekaligus ketika dikurung dengan perisai oleh para prajurit, tapi di akhir film dia ada lagi ikut berbaris dan ngasi hormat ke bendera 36 negara yang dikibarkan secara bersamaan ketika dunia sudah damai.

Mungkin itu rohnya.







Read More

Friday, August 19, 2016

KERACUNAN DRAMA KOREA SHE WAS PRETTY

  No comments
August 19, 2016


Drama korea gak selamanya jelek (meski orang yang nonton saya lihat hidupnya langsung jadi drama parah).

Saya bukan salah satu fans garis keras drama korea. Seperti fenomena DotS kemarin, saya sama sekali gak nonton serialnya. Paling beberapa cuplikan yang di-share orang - orang. Cuplikan yang saya tonton adalah episod full dari pertama sampe akhir.

Drma korea (atau asia) yang saya ikutin banget itu Endless Love, Full House, dan Meteor Garden. Semuanya saya tonton di TV. Itu semua karena waktu itu usia saya masih belum cukup untuk memiliki hak suara untuk menentukan channel mana yang harus dipilih. Sampe sekarang juga, sih. Siapa juga yang berani melawan kalo sudah ibu yang megang remote. *melototin serial Uttaran dan Anak Jalanan*


Dan sekarang - sekarang ini, saya nonton korea atau jepang - jepangan kalo genre-nya komedi. Atau setidaknya banyak orang bilang lucu. Kalau yang romantis malah muntah saya.

Sampailah pada suatu ketika Ewi, temen kantor saya, nunjukin drama korea (drakor) She Was Pretty. Dramanya sudah dari tahun 2015, dan saya nontonnya dari episode 3. Saya langsung suka karena lihat muka pemain utama ceweknya, dan karakternya dia disana. Lucu banget ekspresi dan gaya bicaranya. Karakternya juga ngingetin saya sama ibu saya (dan beberapa Cancerians lain), yang pinter, easy going, ceplas - ceplos, gampang banget dibohongi atau dibecandain karena dirinya yang selalu menganggap serius segala hal, cepet kesel tapi gak ampe benci - benci banget sama orang, Hal ini malah bikin Cancer itu ngangenin. Tapi ada juga sebagian Cancer yang jahat.

Saya jadi kangen dengan ibu saya di kampung. Gampang banget dibecandain, padahal udah sering saya bohongi, bahkan kebohongan yang sama! Muahahaha. Cepet banget kaget dan menganggap serius berita hoax yang saya kasi, dan akhirnya dia nyadar kalo dibohongin karena saya gak bisa nahan ketawa lihat kelakuan bodohnya. : ))

Saya jadi ngefans sama Hwang Jung-eum, si pemeran utamanya. Kata Ewi, dia emang selalu memerankan peran yang lucu dan condong menggemaskan daripada ke cantik. Meski setelah saya googling, foto aslinya sehari - hari gak kalah cantik. Cuman di serial ini dia berhasil menjadi orang kampung tapi ngangenin dengan tingkahnya. Tanpa dia, suasana jadi kosong.


Drakor berhasil mengarahkan emosi penonton. Yaaaa mungkin hampir semua drakor kayak gitu, tapi beberapa kali saya ikut tergiring untuk benci pada satu tokoh, di momen yang lain ikut terbawa suasana bahagia, sedih dan ketawa. Dan yang paling saya suka adalah sutradara menyisipkan teka - teki yang jawabannya gak ketebak sama sekali sampe akhir. Saya sampai terkecoh! Keren banget.

Minusnya, dari 16 episod film ini, episod terakhir terasa sangat lama dan membosankan karena dua tokoh utamanya sudah bersatu di episod 15 dan segala pokok permasalahan sudah kelar 95%. Jadinya menurut saya kalau pun gak ada episod 16, gak bakal mengurangi kekuatan cerita.


Tapi setelah saya tanya ke Ewi, drama korea emang gitu. Meski cerita udah happy ending, musti dijelasin nasib pemeran utama selanjutnya. Nikah apa enggak, punya anak berapa, ikut asuransi atau ikut BPJS, meninggalnya gimana, rohnya masuk neraka apa surga.

Kalo kentang, entar fans garis keras mereka bakal ngamuk - ngamuk. 

Dari sekian banyak artis cewek yang main di She Was Prettu, pemeran yang paling bisa bikin saya tetep betah di depan laptop adalah dia:

Koh Joon Hee sebagai Ha-Ri

Read More