Showing posts with label family. Show all posts

Wednesday, March 1, 2017

END (Trip ke Lumajang part 4)

  No comments
March 01, 2017


Skedul selanjutnya sekembalinya kami dari Alas Purwo adalah mandi. Sambil nunggu antrian, saya mengisi batre hape. Saya mempersiapkannya sangat matang hingga bawa colokan triple socket dari rumah, biar ga rebutan terminal.

Kami mandi di kamar mandi yang tersedia di Pura Blambangan. Kamar mandinya cukup banyak. Bahkan ada kamar mandi khusus untuk pendeta. Dan yang paling penting: kamar mandinya GRATIS!

Kamar mandinya memang sempit. Tapi sangat bersih. Untuk sekelas kamar mandi umum, hal ini sangat spesial. Rasanya kalo saya ngekos deket pura Blambangan, saya akan tiap hari mandi kesitu. Sekalian biar hemat biaya air.

Usai mandi, kami makan bareng. Menu yang sama: nasi kotak. Kayaknya lauknya pun juga sama dengan yang kami dapatkan saat baru berlabuh di Ketapang.

Pedagang yang jualan tempat tirta, juga jual anekan jajanan, minuman, dan oleh - oleh. Saya coba tawar, buat dibawa pulang untuk oleh - oleh. Sayangnya tawar menawar kami gagal. Saya tidak mampu membujuk dagangnya, dan proses jual beli diantara kami urung terjadi. :3

Kelar makan, kami langsung berangkat menuju Lumajang. Kata travelnya, perjalanan memakan waktu kurang lebih 5 jam memakai bis. Itu sama dengan saya lima kali bolak - balik Denpasar-kampung saya di Karangasem!

Saya coba bawa tidur saja. Kondisi saya dari Bali sudah gak enak. Kepala pusing sekali dan agak sedikit mual. Awalnya saya coba tahan biar gak dikit - dikit langsung ke obat kimia. Tapi sakitnya makin gak tertahankan. saya minum paracetamol, sakitnya hanya berkurang sedikit. Sedikit-banget. Bahkan sampai balik dari Lumajang sakitnya gak hilang -hilang, padahal udah makan hampir 4 paracetamol selama 2 hari. Sampe Gilimanuk saya putuskan minum Antimo, bukan untuk menghilangkan sakit kepala, tapi biar bisa tidur tenang tanpa gelisah menahan sakit, dan baru bangun kalo pas sudah sampai Denpasar.

Gara - gara sakit kepala ini, kenikmatan trip kali ini jadi berkurang. Saya jadi gak bisa terlalu berbaur karena gerak terbatas akibat menahan sakit. Di atas kapal saat menyeberang balik ke Bali pun saya hanya bisa duduk dan menempelkan kening di besi pegangan kapal. Hanya untuk merasakan dinginnya besi, biar kepala agak adem dan memberi tekanan kepada kening untuk mengurangi rasa sakit.

Ketika tidak tahan nahan sakit, sesekali saya minta bapak saya yang duduk di sebelah saya memijat leher bagian belakang saya. Rasanya lumayan enak. Tapi seringkali juga saya memijat diri saya sendiri biar gak terus-terus merepotkan. Ketika saya melakukan pijitan untuk diri sendiri, disitu saya merasa menyedihkan banget. #ngenes T_T

Sampai di Lumajang waktu sudah hampir tengah malam. Rintik - rintik hujan menyambut kedatangan kami. Kami langsung menuju pura untuk bersembahyang. Setelah itu acara bebas dan balik ke Bali esok pagi.

Sebelum kesini, saya di Bali sempet browsing dahulu nyari info tentang Lumajang. Di foto Lumajang tampak sangat keren, tapi melihat langsung, lebih keren lagi. Megah banget. Gelapnya malam dan rintik hujan tidak mengurangi keindahan gapuranya yang sangat khas. Esok paginya, gapura ini makin tambah cantik.





Selesai sembahyang dan makan sate kambing di warung dekat pura, saya dan bapak memutuskan tidur di areal pura bersama pemedek (umat yang datang ke pura untuk bersembahyang) lainnya. Yang lainnya ada yang menyewa penginapan.

Kami tidur di lantai-lantai sekitar areal pura yang diijinkan. Area pura biasanya dibagi menjadi 3 bagian. Bagian tengah dan dalam yang harus steril dari kegiatan menginap ini.

Agenda menginap ini diluar prediksi saya dan bapak. Awalnya kami kira selesai sembahyang di Lumajang, kami langsung balik, sehingga kami tidak mempersiapkan karpet atau alas tidur. Beberapa menit kami bolak - balik masuk pura. Sempet ke bis, lalu berubah pikiran dan balik ke pura lagi. Mondar - mandir mencari apakah ada space karpet kosong yang bisa kami tiduri agar tetap hangat. Kami bener - bener kayak anak hilang. Saya jadi merasa menyedihkan. #ngenes #2

Ada space karpet yang kami lihat kosong, tapi ga enak minta ijin sama yang punya. Biasanya pemedek yang tidur itu berjejer bersama keluarganya, tengsin aja gitu kami dua pria dewasa menyusup diantara mereka.


Mungkin bapak udah saking ngantuknya, Ia tidur di lantai kosong terdekat yang Ia lihat. Saya amat kasian melihat dia tidur di lantai tanpa alas dan selimut semalaman. Ada beberapa orang yang tidur di karpet dan menggulung ujung karpet sebagai pengganti bantal. Padahal sisa karpet yang digulung itu lumayan untuk menampung banyak orang. Grrrrr

Bapak sudah tidur duluan. Saya masih mencari lokasi tidur yang lebih layak untuk kami berdua. Tampak ada tempat agak ke dalam yang terlihat hangat. Meski gak ada alasanya juga, setidaknya gak sedingin di luar tempat bapak tidur sekarang. Saya tidak tega jika sampai melihat dia masuk angin. 

Tidurlah kami berdua di tempat pilihan saya.

Esok pagi kami mandi secara bergiliran. Setelah dua kali memakai kamar mandi untuk cuci muka, dan buang air kecil kemarin malemnya, saya melihat banyak temen - temen pria belok ke belakang wc yang saya masuki alih - alih masuk kesini. Saya ikuti mereka. Penasaran.

Ternyata kamar mandi cowo yang benar ada disana! Jadi selama ini saya masuk kamar mandi cewe. Untung ga ada cewe yang masuk, atau ada yang melihat saya masuk ke tempat yang salah.

Abis mandi, sembahyang, lalu kami sarapan bareng. Kali ini makannya tidak nasi kotak. Tapi prasmanan di sebuah warung deket pura yang sudah dibooking untuk kami semua. Saya juga sempat beli oleh - oleh, yang harganya gak jauh beda dengan harga di pura Blambangan. Mungkin belum rejeki pedagang di Pura Blambangan mendapat uang saya. :))

Perjalanan ini pun usai. Kami balik ke Bali. Saya meringis kesakitan sepanjang perjalanan menahan sakit kepala (kecuali pas makan antimo, saya tidur pules banget, bangun - bangun sudah tiba di kantor bapak).



Btw, sakit kepala ini terus menyerang saya sampe seminggu kedepan. -___-"

*

Trip Lumajang part 1part 2part 3

Read More

Monday, February 27, 2017

Pura Blambangan (Trip ke Lumajang part 2)

  No comments
February 27, 2017


Ini pertama kali saya sembahyang ke pura di Jawa. Pertama pula saya jalan - jalan hanya bersama bapak, tanpa adik dan ibu.

Kita lanjutin cerita yang kemarin ya.

Gelombang selat Bali kala itu cukup enak dipakai menyeberang. Setibanya rombongan di pelabuhan Ketapang, kami langsung diajak makan nasi kotak yang sudah dipesankan oleh pihak travel. Semua sudah diatur dan disiapkan.


Saya tidak habis memakannya. Begitu juga di acara makan - makan selanjutnya. Selain karena lagi enggak selera, saya menahan diri makan terlalu banyak kalau sedang dalam perjalanan seperti ini. Takut mules di jalan!

Lokasi pertama yang kami tuju adalah Pura Blambangan. Karena tertidur di jalan, rasanya cepat sekali sampai. Selama tirta yatra saya memang lebih banyak menghabiskan waktu tidur selama perjalanan di dalam bis. Sejak berangkat dari Denpasar, sampai pelabuhan Gilimanuk, pas sudah di Jawa, hingga balik lagi, saya lebih banyak tidur. :D
Aura yang saya rasakan di pura Blambangan hampir sama dengan pura - pura yang pernah saya kunjungi di Bali. Tapi kalo dibandingkan dengan suasana rumah - rumah sepanjang jalan yang saya lewati dari Ketapang dengan aura puranya, jauh berbeda. Namanya juga beda kultur.




Satu hal yang saya sesali ketika ke pura Blambang dan pura - pura lain selama acara Tirta Yatra ini adalah saya terlalu takut dan pelit membeli tempat tirta (air yang sudah didoakan/air suci) yang dijual oleh pedagang - pedagang di sekitar pura. Hingga akhirnya saya tidak punya wadah untuk meminta tirta ke pemangku (petugas/pemimpin upacara) dan membawanya pulang ke rumah. Ibu saya pasti senang kalo jadi saya bawakan tirta.

Hal yang mengejutkan yang juga terjadi saat di pura Blambangan ternyata bapak pengen sekali selfie dengan saya, anaknya. Dia antusias sekali. Dia bahkan mengusir pegawai - pegawai lain yang sedang fotoan di plang pura demi kami bisa fotoan disana. Meski dia gak ngerti cara bilang 'selfie', dia hanya bilang,"De, fotoan yuk kayak yang biasa orang sekarang lakuin. Yang gitu - gitu itu". Tangannya dia gerakkan seolah-olah membawa kamera dengan posisi tangan naik ke pojok atas :))

Sejujurnya saya gak enak sama yang lain diusir bapak saya seperti itu, tapi saya juga terharu. Sehingga meski gak enak, saya tetep fotoan sama bapak. Jarang - jarang kami seperti itu. Sayangnya bapak saya susah sekali dibujuk untuk senyum di foto, tegang melulu.


Hasil gambar untuk tsuzuku

*

Trip Lumajang part 1part 3part 4.

Read More

Sunday, February 26, 2017

Perempuan Memiliki Daya Persuasif yang Besar. (Trip ke Lumajang Bersama Kantor Bapak part.1)

  No comments
February 26, 2017


Akhirnya saya keluar Bali lagi. Setelah ada peraturan di kantor yang melarang pegawai kontrak untuk ikut perjalanan keluar Bali, saya sudah tidak pernah lagi 'merantau'.

Tiba - tiba ada telpon dari bapak menanyakan sanggup tidak saya ikut dengannya dalam rombongan kantornya tirta yatra ke Jawa, tepatnya ke Lumajang.

Rombongan dijadwalkan berangkat jam 6 pagi. Awalnya saya akan berangkat dari kos, biar deket sama kantor bapak, tempat start keberangkatan. Tapi batal karena motor bapak mogok pas mau balik pulang ke rumah, sehingga esok harinya saya dan bapak berangkat pakai motor saya.

Saya heran dengan mata saya. Kalau ada kewajiban, Ia bisa bangun kapan saja. Kalau sepi motivasi, saya bisa baru melek jam 4 sore!! (Ini kisah nyata)

Karena berangkat dari rumah, pagi itu saya dan bapak jam 5 pagi harus sudah jalan. Artinya jam 4 pagi harus sudah prepare. Dan saya dengan segarnya sudah rapi sejak jam setengah 6! PRESTASI.

Saya jarang membonceng keluarga sendiri. Biasanya kalo ga temen kantor, ya pacar. Setelah hari itu akhirnya ngebonceng bapak, rasanya masih kagok. Belum lagi gaya boncengan bapak saya menyatukan kedua tangannya, lalu dikaitkan ke perut saya. Rasanya geli ,menggelitik.

Bapak saya sendiri gaya bawa motornya lebih mirip adik saya. Pelan dan santai. Kalo saya mirip ibu, ngebut, ga tau aturan, ngaco dah pokoknya. Berkali - kali bapak saya memperingatkan saya untuk hati - hati bawa motornya. Bahkan ketika tikungan atau saya menghindari jalan rusak atau tidak rata, terasa tangan dan badan bapak mencoba mengendalikan saya untuk mengarah ke arah yang bener. Hal ini berasa dari beban muatan di belakang. :))

Karena masih pagi, jalanan masih sepi. Kami bisa sampai tepat waktu sebelum bis berangkat. Di kantor bapak saya sudah ramai. Antara mereka takut ketinggalan, atau terlalu antusias. Beberapa orang ada yang sudah mengenal saya, tapi saya sudah tidak ingat mereka. Bukannya sombong, ketika itu saya masih kecil, ketika saya sekeluarga tinggal di asrama kantor. Kira - kira umur 4 tahun ke bawah (pokoknya umur - umur saya belum sekolah). Saya cuma bisa senyum dan berbisik ke bapak nanya mereka itu siapa?

Saya dapet di Bis 3, bersama teman - teman satu divisinya bapak . Kebanyakan cowok, usia mereka gak terlalu tua. Orangnya asik -asik, dan karena kebanyakan cowok, kalian pasti tahu apa topik kami selama perjalanan kan? :)) Dan pastinya bikin otak gak bersih lagi. Kwkwkwk Di bis lain saya lihat ada yang cakep. (gimana kelanjutan kisah saya dengan cewe cakep ini? tunggu di tulisan part 2. hoho)

Selama perjalanan saya hanya tidur. Gak terasa sudah sampai Pelabuhan Gilimanuk aja. Saya jarang berinteraksi dengan bapak, meskipun itu di rumah. Terlebih karena kami jarang bertemu karena situasi saya yang baru pulang kampung tiap sabtu dan minggu. Tapi dia sudah mencoba jadi bapak yang baik. Setidaknya selama di atas kapal. Dia membelikan saya tisu dan kopi. Meski sebenarnya saya agak cemas sama bapak karena kayanya uang yang saya bawa lebih banyak dari dia. Muehehe

Mungkin ini salah satu usahanya untuk memperbaiki citra di depan anaknya. Secara tiap pulang ke rumah, ibu saya selalu curhat ke saya dan adik tentang kekesalannya ke bapak dan perbuatan - perbuatan bapak yang ibu anggap sebuah kesalahan. FYI, wanita memiliki daya persuasif yang besar. Dari dengerin mereka bicara aja, kita bisa ikutan benci ke orang yang belum kita kenal. 

Begitulah akhirnya saya dan adik sedikit tidak ikutan kesel ke bapak. :D

*

Trip Lumajang part 2, part 3part 4.




Read More

Saturday, August 20, 2016

KEMALINGAN OLEH TETANGGA SENDIRI, UANG SEMUA HABIS

  No comments
August 20, 2016


Saya menulis ini dalam keadaan lapar. Menulis pengalaman musibah, jam 11 pagi, dalam perut kosong bukan pilihan yang tepat.

Saya abis kemalingan. Kejadiannya tepat kemarin, sabtu, pas saya lagi di kampung. Pencuriannya terjadi saat saya dan ibu saya masih di rumah.

Malingnya masuk lewat jendela kamar saya, dia ambil semua duit saya. Dari dompet di dalem tas, uang di celengan, dan di dalam amplop - amplop. Malingnya juga membuka lemari saya, memeriksa bungkus hape saya, dan ngeberantakin meja kamar saya.

Lucunya, saya sempat bicara sama malingnya. Yang saat itu saya gak kepikiran kalo dia bakal maling. Dia adalah Eka, anak tetangga yang masih berusia 10 tahun. Padahal semua gerbang rumah kekunci, tapi dia tiba - tiba ada di belakang rumah saya. Untung kucing saya yang baru abis melahirkan ribut - ribut karena kedatangannya dia.

"Kamu ngapain, Ka?"

"Ehm...engga...ehm...mau nyari antingnya Iluh (sepupunya) yang katanya hilang"

Saya panggil ibu saya yang lagi di halaman rumah, balik - balik dia udah ilang. Saya cari ke sekeliling rumah, dia udah gak ada. Saya sempat menutup jendela dari kamar, jendela yang sebelumnya udah saya tutup padahal, saya kira jendelanya kumat dan kebuka sendiri karena angin.

Barulah saya sadar sedang kemalingan saat ibu mau nuker duit ke saya. Pas mau ngambil duit di dompet, kamar udah berantakan, dan semua uang di dompet saya lenyap.


Kami periksa lagi keadaan di sekitar rumah, ternyata di luar pagar ada batu yang bisa dijadiin pijakan untuk loncat masuk rumah kami. Batu itu tepat ada di pagar di  seberang jendela kamar saya. Dan di dekat batu itu barang - barang dari dalem kamar saya seperti headset, kotak kacamata, dan bungkus kartu SIM card berantakan. Btw, rumahnya Eka juga deket sana. Selang 2 rumah dari rumah saya, tepat di barat kamar saya.

Saya tidak memperpanjang masalah ini. Saya rasa bukti - bukti untuk menuduh anak itu belum cukup. Meski saya adalah saksi dan korbannya langsung. Tapi kalo sekali lagi ada masalah seperti ini, saya bakal bikin rame.

Saya sadar, respon yang saya lakuin kemarin setelah kemalingan itu salah. Saya gak gentle ngedatengin rumahnya Eka dan bicara baik - baik ke orang tuanya dan bilang kalau saya memergoki dia mencuri. Tapi itu sudah sore, bahkan hari mau gelap. Mengingat karakter ibunya yang memang suka nyari ribut, saya enggan berantem malem - malem. Apalagi saya mau balik ke Denpasar, saya gak pengen balik dengan suasana hati yang panas. (Selain juga karena nyali saya terlalu lembek untuk berantem sama orang. Ckckckck... gimana mau jadi kepala keluarga kalo ngebela diri aja kagak bisa. ZZZZZZZ)

Kami selalu berdoa agar gak kemalingan lagi. Siapa juga yang pengen dapet musibah, kan? Kami berencana pasang kawat berduri di pagar (meski kalo malingnya udah niat, mau pake apapun bakal dilawan). Dan masang kamera CCTV jika ada rejeki.

Ternyata Eka dan keluarganya sudah pernah terlibat kasus pencuriaan. Beberapa diantaranya tertangkap tangan, sisanya enggan memperpanjang, males berantem dengan ibunya. Ibunya Eka bukan tipe orang yang bisa diajak ngomong baik - baik. Selalu pengen ribut.

Semoga buat kalian yang membaca tulisan ini gak mengalami musibah yang sama ya. Tetap waspada. 

Read More