Saturday, March 4, 2017

SEORANG PRIA NGAMUK DI PUSKESMAS DENPASAR

  No comments
March 04, 2017


Jika hendak berhadapan dengan birokrasi, ngurus surat dan semacamnya, kita musti siap nyiapin waktu lebih. Makanya pas denger di Jakarta dan daerah lain sudah bisa ngurus surat - surat kependudukan dan hal lainnya kurang dari 10 menit, saya iri.

Bulan ini masa berlaku SIM saya habis. Saya mulai memutar otak bagaimana teknis ngurus SIM yang akan saya tempuh. Selama ini saya ngurus SIM-nya lewat calo. Bayarnya lebih mahal, tapi tidak perlu capek - capek antri, berdesak-desakan, dan memakan waktu yang lama. Kalau mau sesuai tarif normal, musti nyiapin waktu, tenaga, dan kesabaran. Seperti hukum tak tertulis yang berlaku dalam bisnis pelayanan.


Karena terbentur jam kerja kantor saya, saya tidak bisa mengurus langsung ke polres lewat jalur resmi. Saya titipurusan ini ke ibu. SIM saya fotocopy, aslinya dibawa ibu, fotocopyannya saya yang bawa. Buat jaga - jaga kalo di jalan ada razia. Kalo polisi yang ngadain razia nanya, saya bilang aja SIM saya hilangg atau sempet ada insiden di jalan dan SIM saya ditahan sama korban saya. :p

Ternyata kenalannya ibu gak bisa ngurusin kalo belum mepet tanggal berlaku SIM-nya mati. Kebetulan waktu itu SIM saya baru habis masa berlakukan satu bulan kemudian. Dapatlah saya info kalau sekarang bisa ngurus SIM lewat jalur online. Saya pun mencobanya. Karena yang namanya online, HARUSNYA lebih gampang, cepat, dan praktis.

Ternyata caranya mudah sekali. Dibantu pacar (saya belum sempat nyari wifi/internet), daftar online tidak lebih dari 10 menit! Asal data yang dibutuhkan sudah lengkap, seperti data di SIM lama, nomor KTP, dan data KTP orang tua.

Kesulitan yang saya alami adalah menentukan Polres tempat saya akan mengurus SIM online nantinya. SIM yang lama domisilinya di Klungkung, sedangkan saya tinggal di Karangasem. Saya coba pakai Polres Karangasem, ternyata gagal. Dari keterangan yang tertera di web-nya, Polres Karangasem belum terdaftar di sistem. Saya coba ganti ke Polres Klungkung, lalu tiba - tiba kepikiran sekalian saja mencoba di Poltabes Denpasar biar deket. TERNYATA MAU!

Jadi kesimpulannya: SIM Online bisa dilayani dimana saja.

Setelah semua tahap terlewati, kita akan mendapatkan bukti registrasi via email. Nanti bukti itu diserahkan ke polres yang dituju untuk mendapatkan SIM. Di bukti pendaftaran dicantumkan berkas - berkas yang harus dibawa saat pendaftaran ulang, seperti KTP asli dan fotocopy, SIM lama dan fotocopy, serta surat keterangan sehat dari dokter.

Hati - hati dalam menulis data di situsnya, saya sempat keliru menulis nomer SIM lama, sehingga gagal mendaftar. Pelan - pelan aja ngisinya. Cek berkali - kali. Pastikan gak ada yang salah. Jangan panik jika gagal dalam percobaan pertama. :)

Pendaftaran SIM online selengkapnya bisa disimak pada video di bawah ini.


Hal yang saya lakukan selanjutnya adalah mencari surat keterangan sehat. Saya cari ke Puskesmas terdekat dari kos saya. Kalian juga bisa mencarinya di RS. Saya kurang tahu apakah ke dokter pribadi juga bisa, tapi itu patut untuk dicoba.

Resiko memilih puskesmas di kota besar, pengunjungnya selalu rame. Saya bersyukur ada pria yang ngamuk ke petugas puskesmas. Ia membuka pintu pol umum dan dari pintu Ia bicara ke petugasnya,"Belum selesai, Bu? Saya sudah satu setengah jam nunggu disini."

Petugas meminta pria itu untuk bersabar sedikit lagi. Sayangnya pria itu sudah terlanjur emosi. "Saya ga jadi deh bikin surat disini! Lama sekali." lalu Ia ke kasir, "Saya minta uang saya kembali, ga jadi saya bikin surat disini."

Petugas kasir gak bisa ngomong apa - apa. Dia balikin uang si bapak itu. Bapak itu pun pergi bersama pacarnya.


Drama pun dimulai.

Petugas tergesa - gesa keluar pol umum, mengejar pria tadi sambil membawa surat keterangan sehat si pria,"Pak, pak, tunggu sebentar! Ini suratnya sudah jadi!" teriak ibu petugas sambil berlari.

Pria yang masih belum jauh (kayanya baru sampai di parkiran) rupanya udah ga emosian lagi. Dia nutur diajak balik ke puskesmas. Ngurus administrasi lebih lanjut untuk diisi di surat keterangan sehat, seperti misalnya tensi dan data lain. Untung dia nyari surat untuk pacarnya, kalo pria ini yang nyari surat keterangan dokter ketika itu, dan dicek tensinya, hasilnya pasti tinggi. Kan habis marah - marah :)) Suratnya bukan jadi keterangan sehat, tapi keterangan sakit.

Kenapa kejadian ini menjadi keuntungan untuk saya? Karena, saya jadi ada hiburan untuk ditonton sambil nunggu giliran dipanggil (meski sempet ikut tegang juga nontonnya), pasca kejadian ini semua petugas jadi lebih sigap kerjanya. Front office yang tadinya letoy menerima pengunjung yang datang dan memanggil nomer antrian pengunjung, sekarang jadi bersemangat. Begitu juga petugas kasir dan lainnya. Sekarang jadi berasa nonton video, tapi kecepatan videonya dimajukan 1,5x. Saya dari bayar di kasir, sampai menerima surat keterangan sehatnya bahkan tidak sampai 10 menit. Thx bapak yang tadi.


Pacar bilang biaya bikin surat keterangan sehat cuma 7000 perak. Untung saya bawa uang lebih. Kenyataannya bayar 21ribu. Tujuh ribu itu kalo di puskesmas-puskesmas di kabupaten Badung.

Surat keterangan sehat udah dapet, saatnya bayar biaya perpanjangan SIM. Di lembar registrasi pendaftaran online tercantum biaya perpanjangan SIM sebesar 75ribu. Di situsnya dijelaskan kalo bayarnya bisa di ATM BRI.

Saya gak punya ATM BRI. Kebetulan kantor deket dengan kantor BRI, saya langsung saja ke kantornya. Nyampe sana, saya langsung nanya ke security, bayar perpanjangan SIM di bagian mana? Pak security tampak bingung. Ia minta waktu untuk bertanya ke petugas di bagian office, ruangannya di dalam, sambil membawa lembar registrasi milik saya.

Lima menit kemudian security kembali,"Bli sudah coba ke polresnya langsung?" tanya pak security.

Saya jelasin kenapa saya milih bayar langsung kesana.

"Coba langsung ke polresnya saja ya, Bli," saran pak security lagi.

Saya langsung ingat kalau memang ada stand bank BRI di setiap polres. Saya pun mengiyakan saran pak security. Dan berencana langsung bayar ke polres dua hari lagi. Soalnya besoknya saya gak bisa ke polres karena ada tugas lapangan ke Jembrana yang tampaknya sampai sore, dan ketika saya di BRI itu pun sudah lewat jam 12, sedangkan di keterangan pada lembar bukti pendaftaran/registrasi SIM online disebutkan untuk datang dari jam 8 - 12 siang.

Saya sempat mencoba bayar lewat ATM minjem kartu ATM-nya pacar. Jadi ketika setelah memasukkan pin, pilih opsi pembayaran ->  lainnya -> POLRI -> SIM. Akan muncul perintah memasukkan nomor registrasi. Namun ketika saya mencoba memasukkan nomor registrasi, gagal. Sistem menolak. Muncul keterangan kalau pembayaran untuk pilihan itu belum ada. Saya coba beberapa kali, saya lebih cermat lagi ketika memasukkan nomer registrasi, tetap tidak bisa. Saya simpulkan, mungkin untuk di Bali belum tersedia layanan pembayaran SIM Online lewat ATM.

Pada hari sabtu jam 8 saya pergi ke polres. Gak sempet makan, bahkan minum, tapi masih inget mandi Saya buru-buru ke polres. Jam 8 sudah termasuk kesiangan kalo mau ke polres di hari sabtu. Pacar sudah nanya ke bapaknya yang  seorang polisi tentang jam operasional polres di hari sabtu. Katanya polres cuma buka sampai jam 10.

Saya sudah panik. Baru bangun jam sudah nunjukin pukul 8 kurang dikit. Motor gak isi bensin, dan rantainya kendor. Sempet mampir ke bengkel langganan, ternyata belum buka. Mungkin ini cara tuhan mau ngasi tahu saya untuk ke polres aja dulu, ngurus motornya nanti setelah urusan SIM selesai.

Jam 9 lebih dikit, saya sudah sampai polres. Setibanya disana, kondisi tempat pengurusan SIM benar - benar chaos. Apa yang terjadi disana? Saya lanjutkan di tulisan selanjutnya.



Read More

Wednesday, March 1, 2017

END (Trip ke Lumajang part 4)

  No comments
March 01, 2017


Skedul selanjutnya sekembalinya kami dari Alas Purwo adalah mandi. Sambil nunggu antrian, saya mengisi batre hape. Saya mempersiapkannya sangat matang hingga bawa colokan triple socket dari rumah, biar ga rebutan terminal.

Kami mandi di kamar mandi yang tersedia di Pura Blambangan. Kamar mandinya cukup banyak. Bahkan ada kamar mandi khusus untuk pendeta. Dan yang paling penting: kamar mandinya GRATIS!

Kamar mandinya memang sempit. Tapi sangat bersih. Untuk sekelas kamar mandi umum, hal ini sangat spesial. Rasanya kalo saya ngekos deket pura Blambangan, saya akan tiap hari mandi kesitu. Sekalian biar hemat biaya air.

Usai mandi, kami makan bareng. Menu yang sama: nasi kotak. Kayaknya lauknya pun juga sama dengan yang kami dapatkan saat baru berlabuh di Ketapang.

Pedagang yang jualan tempat tirta, juga jual anekan jajanan, minuman, dan oleh - oleh. Saya coba tawar, buat dibawa pulang untuk oleh - oleh. Sayangnya tawar menawar kami gagal. Saya tidak mampu membujuk dagangnya, dan proses jual beli diantara kami urung terjadi. :3

Kelar makan, kami langsung berangkat menuju Lumajang. Kata travelnya, perjalanan memakan waktu kurang lebih 5 jam memakai bis. Itu sama dengan saya lima kali bolak - balik Denpasar-kampung saya di Karangasem!

Saya coba bawa tidur saja. Kondisi saya dari Bali sudah gak enak. Kepala pusing sekali dan agak sedikit mual. Awalnya saya coba tahan biar gak dikit - dikit langsung ke obat kimia. Tapi sakitnya makin gak tertahankan. saya minum paracetamol, sakitnya hanya berkurang sedikit. Sedikit-banget. Bahkan sampai balik dari Lumajang sakitnya gak hilang -hilang, padahal udah makan hampir 4 paracetamol selama 2 hari. Sampe Gilimanuk saya putuskan minum Antimo, bukan untuk menghilangkan sakit kepala, tapi biar bisa tidur tenang tanpa gelisah menahan sakit, dan baru bangun kalo pas sudah sampai Denpasar.

Gara - gara sakit kepala ini, kenikmatan trip kali ini jadi berkurang. Saya jadi gak bisa terlalu berbaur karena gerak terbatas akibat menahan sakit. Di atas kapal saat menyeberang balik ke Bali pun saya hanya bisa duduk dan menempelkan kening di besi pegangan kapal. Hanya untuk merasakan dinginnya besi, biar kepala agak adem dan memberi tekanan kepada kening untuk mengurangi rasa sakit.

Ketika tidak tahan nahan sakit, sesekali saya minta bapak saya yang duduk di sebelah saya memijat leher bagian belakang saya. Rasanya lumayan enak. Tapi seringkali juga saya memijat diri saya sendiri biar gak terus-terus merepotkan. Ketika saya melakukan pijitan untuk diri sendiri, disitu saya merasa menyedihkan banget. #ngenes T_T

Sampai di Lumajang waktu sudah hampir tengah malam. Rintik - rintik hujan menyambut kedatangan kami. Kami langsung menuju pura untuk bersembahyang. Setelah itu acara bebas dan balik ke Bali esok pagi.

Sebelum kesini, saya di Bali sempet browsing dahulu nyari info tentang Lumajang. Di foto Lumajang tampak sangat keren, tapi melihat langsung, lebih keren lagi. Megah banget. Gelapnya malam dan rintik hujan tidak mengurangi keindahan gapuranya yang sangat khas. Esok paginya, gapura ini makin tambah cantik.





Selesai sembahyang dan makan sate kambing di warung dekat pura, saya dan bapak memutuskan tidur di areal pura bersama pemedek (umat yang datang ke pura untuk bersembahyang) lainnya. Yang lainnya ada yang menyewa penginapan.

Kami tidur di lantai-lantai sekitar areal pura yang diijinkan. Area pura biasanya dibagi menjadi 3 bagian. Bagian tengah dan dalam yang harus steril dari kegiatan menginap ini.

Agenda menginap ini diluar prediksi saya dan bapak. Awalnya kami kira selesai sembahyang di Lumajang, kami langsung balik, sehingga kami tidak mempersiapkan karpet atau alas tidur. Beberapa menit kami bolak - balik masuk pura. Sempet ke bis, lalu berubah pikiran dan balik ke pura lagi. Mondar - mandir mencari apakah ada space karpet kosong yang bisa kami tiduri agar tetap hangat. Kami bener - bener kayak anak hilang. Saya jadi merasa menyedihkan. #ngenes #2

Ada space karpet yang kami lihat kosong, tapi ga enak minta ijin sama yang punya. Biasanya pemedek yang tidur itu berjejer bersama keluarganya, tengsin aja gitu kami dua pria dewasa menyusup diantara mereka.


Mungkin bapak udah saking ngantuknya, Ia tidur di lantai kosong terdekat yang Ia lihat. Saya amat kasian melihat dia tidur di lantai tanpa alas dan selimut semalaman. Ada beberapa orang yang tidur di karpet dan menggulung ujung karpet sebagai pengganti bantal. Padahal sisa karpet yang digulung itu lumayan untuk menampung banyak orang. Grrrrr

Bapak sudah tidur duluan. Saya masih mencari lokasi tidur yang lebih layak untuk kami berdua. Tampak ada tempat agak ke dalam yang terlihat hangat. Meski gak ada alasanya juga, setidaknya gak sedingin di luar tempat bapak tidur sekarang. Saya tidak tega jika sampai melihat dia masuk angin. 

Tidurlah kami berdua di tempat pilihan saya.

Esok pagi kami mandi secara bergiliran. Setelah dua kali memakai kamar mandi untuk cuci muka, dan buang air kecil kemarin malemnya, saya melihat banyak temen - temen pria belok ke belakang wc yang saya masuki alih - alih masuk kesini. Saya ikuti mereka. Penasaran.

Ternyata kamar mandi cowo yang benar ada disana! Jadi selama ini saya masuk kamar mandi cewe. Untung ga ada cewe yang masuk, atau ada yang melihat saya masuk ke tempat yang salah.

Abis mandi, sembahyang, lalu kami sarapan bareng. Kali ini makannya tidak nasi kotak. Tapi prasmanan di sebuah warung deket pura yang sudah dibooking untuk kami semua. Saya juga sempat beli oleh - oleh, yang harganya gak jauh beda dengan harga di pura Blambangan. Mungkin belum rejeki pedagang di Pura Blambangan mendapat uang saya. :))

Perjalanan ini pun usai. Kami balik ke Bali. Saya meringis kesakitan sepanjang perjalanan menahan sakit kepala (kecuali pas makan antimo, saya tidur pules banget, bangun - bangun sudah tiba di kantor bapak).



Btw, sakit kepala ini terus menyerang saya sampe seminggu kedepan. -___-"

*

Trip Lumajang part 1part 2part 3

Read More

Tuesday, February 28, 2017

Pura Alas Purwo (Trip ke Lumajang part 3)

  No comments
February 28, 2017


Salah satu hal yang membuat trip kali ini menyenangkan adalah cuacanya yang pas. Cuaca yang pas versi saya adalah yang mendung - mendung tapi gak tampak akan hujan. Jadinya teduh, tapi sinar matahari masih cukup enak untuk dinikmati.

Bagi yang sudah ngikutin tulisan saya sejak lama, pasti sudah tau alasan saya menyukai seperti ini. Karena cuaca seperti ini bikin setiap momennya jadi gampang teringat dan enak buat dikenang. Suasanya mirip seperti dalam mimpi - mimpi. Coba deh diinget - diinget, di mimpi biasanya cuacanya teduh kan? Jarang, bahkan tidak pernah cuacanya terik menyengat.

*

Selesai sembahyang di pura Blambangan, rombongan beranjak ke pura Alas Purwo. Travelnya bilang jalan kesana tidak bisa dilalui oleh bis, sehingga rombongan dibagi mejadi beberapa kelompok dan diangkut ke Alas Purwo memakai mikrobus (lebih tepatnya angkot yang disewakan :D). Tidak seperti bus yang kami tumpangi sebelumnya, di angkot ini kami musti desak-desakan dan berpanas-panasan. Bahkan angkot yang saya tumpangi tuas kaca jendela depannya, tempat saya duduk, sudah terlepas. Jadi kalo mau menaikkan atau menurunkan kaca, tuasnya musti saya pasang ke tempat yang semestinya, baru saya puter.

Sepertiga rute dari Blambangan ke Alas Purwo jalannya masih normal. Beberapa bagian tampak ada lubang dan aspalnya tidak rata, tapi itu masih batas wajar. Mulailah ketika memasuki daerah hutan, jalannya mulai menampakan wajah aslinya. Hancur banget. Salah - salah mobil bisa terbalik. Makin masuk hutan, makin parah. Bahkan ada yang tidak teraspal. Genangan air membuat jalanan penuh lumpur. Mobil - mobil yang menuju Alas Purwo masih kinclong - kinclong, yang balik dari Alas Purwo tanah di body mobilnya kalo kita taro biji kacang disana, bakal numbuh dah tuh.

Di pintu masuk hutan, tampak orang - orang sedang menggunduli hutan untuk dialih fungsikan jadi tanah pertanian. Ini adalah salah satu proyek pemerintah daerah setempat. Sedih sebenernya melihat ini. Hutan adalah satu - satunya harapan dunia untuk tetap bisa bernafas. Tapi tujuan alih fngsi lahan ini pun tidak salah. Perekonomian masyarakat jadi meningkat dan kebutuhan pangan rakyat terpenuhi. Ironis memang, demi kebutuhan manusia, manfaat lain dari hutan yang lebih besar harus dikorbankan.

Rumah - rumah sepanjang jalan menuju Alas Purwo sama seperti rumah - rumah sepanjang jalan menuju dan di sekitar pura Blambangan. Yang paling membedakan dengan rumah - rumah di Bali selain lokasinya yang tidak di Bali (yakali!), tidak ada ukiran Balinya dan tidak ada pagarnya. Beberapa rumah ada yang memiliki pagar, tapi tidak setinggi pagar - pagar di Bali. Saya belum sempat menanyakan apa alasannya. Pak sopir sempet cerita kalo masyarakat sekitar situ sengaja memelihara anjing agar ketahuan kalo ada orang atau pencuri masuk rumah. Tapi kenapa enggak bikin pagar juga?

Ini baru asumsi saya, mungkin pagar dianggap sia-sia untuk menghalangi pencuri masuk. Ketiadaan pagar juga menunjukkan kalo masyarakat disini sifatnya terbuka dan tidak ada yang ditutup-tutupi. (Atau sekalian biar gampang kalau mau show up? :p)

Di tengah jalan sebelum memasuki hutan, iring-iringan mobil kami sempat melewati seorang pemuda mengendarai motor di sisi jalan yang berlawanan dengan kami. Awalnya sih biasa aja. Lama - lama dia mulai berulah. Dia meneriaki setiap mobil yang lewat, "Wong Bali CICIIIIIING..!!!"

Cicing artinya anjing dalam bahasa Bali, cuman versi kasarnya. Versi alusnya bisa kuluk, konyong,  mantan pacar, atau yang paling halus: asu.

Tapi karena pemuda ini ngomong menggunakan logat Jawa, dan memakai kata 'wong' yang sebagian dari kami tidak terbiasa memakainya, cacian pemuda ini jadi terdengan biasa aja. Kami hanya bisa terkekeh bersama di dalam mobil karena jadi terkesan lucu. Kekekekekek

Hal baru lainnya yang saya amati dari perjalanan kali ini adalah banyaknya orang - orang berada di tengah jalan meminta sumbangan. Kebanyakan sumbangannya ditujukan untuk keperluan masjid/mushola, misalnya untuk renovasi bangunan. Itu yang saya baca dari spanduk yang mereka bentangkan dan kata sang orator dengan mikrofonnya. Minta sumbangannya pun selalu di depan masjid/mushola. Mungkin untuk ngasi tahu,"Masjid ini loh yang mau kami perbaiki.."

Kadang saya suka kaget sih. Kecepatan kendaraan kami, baik angkot ataupun bus cukup tinggi. Tiba - tiba ada orang tengah jalan. Apalagi berdirinya tepat setelah tikungan. Untung pak sopir cekatan mengendalikan stir. Kayanya sih bapaknya sudah hapal posisi mereka. Secara jalannya sering mereka lewatin nganter tamu.

Di dalam hutan, di kiri kanan tampak pohon - pohon berdiri teratur rapi tinggi menjulang. Beberapa pohon sudah dikasi nomer di batangnya, kayaknya bakal ditebang. Pohon yang bisa saya kenali hanya pohon mahoni, sisanya saya tidak tau. Hehe..

Pura Alas Purwo indah sekali. Berbeda dengan pura Blambangan yang penampakannya seperti pura - pura Bali kebanyakan, pura Alas Purwo gerbangnya khas sekali. Ikonik. Penataan tempat duduk pemedek (pengunjung) yang hendak sembahyang tertata rapi. Tempat menghaturkan canang atau banten (sesajen) ditutupi jeruji besi. Itu artinya disini banyak monyet. Salah satunya sedang membaca tulisan ini. :p




Ibu - ibu yang naruh banten sangat teledor, kebanyakan lupa menutup kembali pintu jerujinya. Untung saja tidak ada monyet yang nekat masuk ke jeruji (soalnya monyetnya lagi sibuk baca tulisan ini :p :p)

Keluar pura saya mendadak haus banget. Air minum ketinggalan di bis. Saya putuskan untuk beli minum di warung di sekitar pura. Bapak saya memperingati untuk tahan saja hausnya. Dia takut harga barang disini mahal - mahal. Biasanya sih gitu, harga barang di sekitar pura bisa 4 sampai 5 kali lipat harga normal. Selain karena jumlah pengunjung yang banyak, pajak tempat mereka berjualan tampaknya juga tinggi. Sehingga mereka harus menaikkan harga barang biar balik modal. Target pasar mereka paling empuk biasanya anak - anak kecil/balita. Sayang anak.. sayang anak...

Dan beneran aja. Padahal saya sudah sengaja beli Sprite yang ada harga yang disarankan pabrik tertera di bungkusnya, tetep aja ibunya masang harga tinggi. Males nyari ribut, saya bayar seharga yang dia minta. Masa habis sembahyang ngerusuh, ga baik kan. Anggep sedekah.

Warung - warung di sekitar Alas Purwo banyak yang jual sarang lebah hutan (dikasi keterangan: ALAMI, BUKAN HASIL TERNAK!). Tapi emang iya sih, setelah saya lihat pohon - pohon di hutan ini banyak sarang lebahnya.

Ciri khas dari sembahyang di Alas Purwo adalah pemedek yang selesai sembahyang lalu medana punia (sedekah) ke tempat yang disediakan, akan diberi benang 5 warna yang bisa digunakan sebagai gelang. Karena diijinkan oleh petugasnya, saya sekalian minta untuk ibu, adik, dan pacarnya adik di rumah. #gamaurugi #serakah

Dari petugas pura sini, saya jadi tahu kalo sebenernya rombongan kami salah urutan masuk pura. Harusnya pura yang kami masuki terlebih dahulu adalah pura inti yang letaknya tidak jauh dari pura tempat kami bersembahyang. Tapi kata petugasnya lagi, itu bukan masalah besar. Yang penting niat sembahyangnya tulus. Tuhan kan ada dimana - mana. O:).

Singkat cerita, kami sekarang sudah otw balik ke Blambangan untuk kembali ke bis. Musti melewati jalan ekstrem yang tadi lagi. Yang bikin makin gokil adalah ada bis tujuan ke Alas Purwo ngotot lewat jalan itu. Yaelah bandel amat ini bis! Jelas aja jalan yang udah rusak bin sempit ini jadi macet. Kendaraan dari Alas Purwo ga bisa lewat karena badan jalan penuh oleh badan bis ini. Mana bis itu udah miring - miring kayak mau jatoh ke sawah di sampingnya.

Berkat kerjasama para sopir yang ada disitu, dan kesigapan sopir kami, saya dan rombongan bisa balik ke pura Blambangan dengan selamat. Bis yang tadi nyangkut tadi pun bisa lewat (setelah bisnya dibongkar kerangkanya sampai ke kursi-kursinya! Muehehehe #becanda).

Bye..bye.. mobil angkot yang panas dan gagang kaca yang copot serta pak sopirnya yang lincah. Coba bapak supirnya adalah sopir uber, saya kasi 5 bintang (y)

*

Trip Lumajang part 1part 2part 4.

Read More

Monday, February 27, 2017

Pura Blambangan (Trip ke Lumajang part 2)

  No comments
February 27, 2017


Ini pertama kali saya sembahyang ke pura di Jawa. Pertama pula saya jalan - jalan hanya bersama bapak, tanpa adik dan ibu.

Kita lanjutin cerita yang kemarin ya.

Gelombang selat Bali kala itu cukup enak dipakai menyeberang. Setibanya rombongan di pelabuhan Ketapang, kami langsung diajak makan nasi kotak yang sudah dipesankan oleh pihak travel. Semua sudah diatur dan disiapkan.


Saya tidak habis memakannya. Begitu juga di acara makan - makan selanjutnya. Selain karena lagi enggak selera, saya menahan diri makan terlalu banyak kalau sedang dalam perjalanan seperti ini. Takut mules di jalan!

Lokasi pertama yang kami tuju adalah Pura Blambangan. Karena tertidur di jalan, rasanya cepat sekali sampai. Selama tirta yatra saya memang lebih banyak menghabiskan waktu tidur selama perjalanan di dalam bis. Sejak berangkat dari Denpasar, sampai pelabuhan Gilimanuk, pas sudah di Jawa, hingga balik lagi, saya lebih banyak tidur. :D
Aura yang saya rasakan di pura Blambangan hampir sama dengan pura - pura yang pernah saya kunjungi di Bali. Tapi kalo dibandingkan dengan suasana rumah - rumah sepanjang jalan yang saya lewati dari Ketapang dengan aura puranya, jauh berbeda. Namanya juga beda kultur.




Satu hal yang saya sesali ketika ke pura Blambang dan pura - pura lain selama acara Tirta Yatra ini adalah saya terlalu takut dan pelit membeli tempat tirta (air yang sudah didoakan/air suci) yang dijual oleh pedagang - pedagang di sekitar pura. Hingga akhirnya saya tidak punya wadah untuk meminta tirta ke pemangku (petugas/pemimpin upacara) dan membawanya pulang ke rumah. Ibu saya pasti senang kalo jadi saya bawakan tirta.

Hal yang mengejutkan yang juga terjadi saat di pura Blambangan ternyata bapak pengen sekali selfie dengan saya, anaknya. Dia antusias sekali. Dia bahkan mengusir pegawai - pegawai lain yang sedang fotoan di plang pura demi kami bisa fotoan disana. Meski dia gak ngerti cara bilang 'selfie', dia hanya bilang,"De, fotoan yuk kayak yang biasa orang sekarang lakuin. Yang gitu - gitu itu". Tangannya dia gerakkan seolah-olah membawa kamera dengan posisi tangan naik ke pojok atas :))

Sejujurnya saya gak enak sama yang lain diusir bapak saya seperti itu, tapi saya juga terharu. Sehingga meski gak enak, saya tetep fotoan sama bapak. Jarang - jarang kami seperti itu. Sayangnya bapak saya susah sekali dibujuk untuk senyum di foto, tegang melulu.


Hasil gambar untuk tsuzuku

*

Trip Lumajang part 1part 3part 4.

Read More

Sunday, February 26, 2017

Perempuan Memiliki Daya Persuasif yang Besar. (Trip ke Lumajang Bersama Kantor Bapak part.1)

  No comments
February 26, 2017


Akhirnya saya keluar Bali lagi. Setelah ada peraturan di kantor yang melarang pegawai kontrak untuk ikut perjalanan keluar Bali, saya sudah tidak pernah lagi 'merantau'.

Tiba - tiba ada telpon dari bapak menanyakan sanggup tidak saya ikut dengannya dalam rombongan kantornya tirta yatra ke Jawa, tepatnya ke Lumajang.

Rombongan dijadwalkan berangkat jam 6 pagi. Awalnya saya akan berangkat dari kos, biar deket sama kantor bapak, tempat start keberangkatan. Tapi batal karena motor bapak mogok pas mau balik pulang ke rumah, sehingga esok harinya saya dan bapak berangkat pakai motor saya.

Saya heran dengan mata saya. Kalau ada kewajiban, Ia bisa bangun kapan saja. Kalau sepi motivasi, saya bisa baru melek jam 4 sore!! (Ini kisah nyata)

Karena berangkat dari rumah, pagi itu saya dan bapak jam 5 pagi harus sudah jalan. Artinya jam 4 pagi harus sudah prepare. Dan saya dengan segarnya sudah rapi sejak jam setengah 6! PRESTASI.

Saya jarang membonceng keluarga sendiri. Biasanya kalo ga temen kantor, ya pacar. Setelah hari itu akhirnya ngebonceng bapak, rasanya masih kagok. Belum lagi gaya boncengan bapak saya menyatukan kedua tangannya, lalu dikaitkan ke perut saya. Rasanya geli ,menggelitik.

Bapak saya sendiri gaya bawa motornya lebih mirip adik saya. Pelan dan santai. Kalo saya mirip ibu, ngebut, ga tau aturan, ngaco dah pokoknya. Berkali - kali bapak saya memperingatkan saya untuk hati - hati bawa motornya. Bahkan ketika tikungan atau saya menghindari jalan rusak atau tidak rata, terasa tangan dan badan bapak mencoba mengendalikan saya untuk mengarah ke arah yang bener. Hal ini berasa dari beban muatan di belakang. :))

Karena masih pagi, jalanan masih sepi. Kami bisa sampai tepat waktu sebelum bis berangkat. Di kantor bapak saya sudah ramai. Antara mereka takut ketinggalan, atau terlalu antusias. Beberapa orang ada yang sudah mengenal saya, tapi saya sudah tidak ingat mereka. Bukannya sombong, ketika itu saya masih kecil, ketika saya sekeluarga tinggal di asrama kantor. Kira - kira umur 4 tahun ke bawah (pokoknya umur - umur saya belum sekolah). Saya cuma bisa senyum dan berbisik ke bapak nanya mereka itu siapa?

Saya dapet di Bis 3, bersama teman - teman satu divisinya bapak . Kebanyakan cowok, usia mereka gak terlalu tua. Orangnya asik -asik, dan karena kebanyakan cowok, kalian pasti tahu apa topik kami selama perjalanan kan? :)) Dan pastinya bikin otak gak bersih lagi. Kwkwkwk Di bis lain saya lihat ada yang cakep. (gimana kelanjutan kisah saya dengan cewe cakep ini? tunggu di tulisan part 2. hoho)

Selama perjalanan saya hanya tidur. Gak terasa sudah sampai Pelabuhan Gilimanuk aja. Saya jarang berinteraksi dengan bapak, meskipun itu di rumah. Terlebih karena kami jarang bertemu karena situasi saya yang baru pulang kampung tiap sabtu dan minggu. Tapi dia sudah mencoba jadi bapak yang baik. Setidaknya selama di atas kapal. Dia membelikan saya tisu dan kopi. Meski sebenarnya saya agak cemas sama bapak karena kayanya uang yang saya bawa lebih banyak dari dia. Muehehe

Mungkin ini salah satu usahanya untuk memperbaiki citra di depan anaknya. Secara tiap pulang ke rumah, ibu saya selalu curhat ke saya dan adik tentang kekesalannya ke bapak dan perbuatan - perbuatan bapak yang ibu anggap sebuah kesalahan. FYI, wanita memiliki daya persuasif yang besar. Dari dengerin mereka bicara aja, kita bisa ikutan benci ke orang yang belum kita kenal. 

Begitulah akhirnya saya dan adik sedikit tidak ikutan kesel ke bapak. :D

*

Trip Lumajang part 2, part 3part 4.




Read More

Tuesday, January 24, 2017

PIL UKURAN SUPER BESAR DARI APOTEKER SUPER JUTEK

  No comments
January 24, 2017


Bagaimanapun cara saya mengelak, gak bisa dipungkiri lagi kalo saya sebenernya sudah ketergantungan dengan paracetamol. Seperti usaha mantan yang mencoba tampak bahagia pasca putus, tapi diam - diam ngirim pesan 'Kamu apa kabar?'

Saya mungkin bisa menahan sakit kepala tanpa minum obat sampai sakitnya hilang dengan sendirinya. Tapi itu akan butuh waktu yang lama. Paling tidak, saya harus istirahat dalam waktu yang gak sedikit agak sakitnya ga tambah parah. Daripada gak bisa kerja, akhirnya saya lari ke obat kimia. Sungguh sebuah dilema.

Ibaratnya pengen jaim gak menghubungi mantan duluan, tiba - tiba inget kalo Tupperware mama masih ada di dia. Daripada dihapus dari silsilah keluarga, akhirnya gengsi dikorbankan untuk menghubungi dia kembali.

Dan pemakaian obat ini berhasil. Dari kemarin sakit kepalanya cuma kambuh satu kali, itu pun langsung hilang lagi setelah saya minum obat untuk kedua kalinya. Syukurnya sampe sekarang sakitnya gak muncul - muncul lagi. Tinggal satu penyakit lagi yang belum hilang: asam lambung!
Awalnya saya gak menerima kenyataan kalo saya ini maag. Gejala - gejalanya saya abaikan. Kenyataan bahwa pola makan saya selama ini emang gak beraturan saya buang jauh - jauh. Kemudian Tantri minta saya ngaca dan melihat warna lidah saya. Saya pun ngaca dan hasilnya: ternyata saya jelek. Karena maag, saya jadi lelaki berwajah jelek berlidah putih. Ya, ciri - ciri maag adalah lidah berwarna putih.


Fix dari situ saya akhirnya menyerah dan mengakui kalo saya memang menderita maag.

Ternyata minum obat maag itu ribet banget. Kita baru boleh makan saat perut kita kosong, kira - kira satu jam sebelum makan, atau dua jam setelah makan. Masalahnya, saya gak bisa nahan lapar. Rencananya minum obat maagnya pagi aja, eh udah terlanjur sarapan. Ya sudah saya pindah ke siang, eh bablas kerja akhirnya kelewat jam makan siang. Lah sampe pulang kantor dan nyampe kos pun saya ga jadi minum obat gara - gara pulangnya sempet ngemil sebentar.

Belinya pun butuh perjuangan. Disaat dibutuhkan, saya malah gak nemu ada apotek. Coba gak dicari, lebih gampang nemu apotek daripada Indomaret. Udah kayak cewe, pas saya udah punya pacar semua mendekat, pas saya jomblo semua menolak.

Udah jauh - jauh nyari, ketika nemu, dapetnya malah yang penjaganya jutek. Kalo kayak gini jadi kangen pegawai mekdi, KFC, indomaret, alfamart, dan saudara-saudaranya, yang kalo pegawainya gak senyum maka pembeli bisa belanja gratis.

Mungkin mbaknya lagi ada masalah di rumahnya. Atau karena muka saya yang ngeselin.

Untung mbaknya cantik. Cewe cakep mah bebas.

Ketika saya nerima obatnya, saya ga nyangka ukurannya bakal segede itu. Sebesar uang logam! Nama obatnya Polysilane. Pantesan aja cara makannya musti dikunyah. Kalo ditelen langsung gak bakal muat!

Tuh kan dari fotonya aja keliatan segede apa. Jari tangan aja kalah gede! (sumber foto)

Saya sempet ragu apakah mampu untuk mengunyahnya. Dari bau dan bentuknya aja udah 'pil pahit' banget! Tapi saya ingin sembuh. Saya mencoba meyakinkan berkali - kali diri saya untuk mampu meminumnya. Kalo emang gagal, cukup muntahin dan minum obat maag yang biasa aja (btw ini obat maag saran dari Tantri yang seorang calon apoteker, makanya tumben saya lihat, biasanya saya minum promah).

Saya merem, mencet hidung sekeras - kerasnya biar ga berasa, dan langsung HAP. Kres.. kres.. kres.. saya kunyah secepat - cepatnya si polysilane ini.

Ajaib.

Rasanya enak.

Rasanya mint gitu. Berasa ngunyah vitasimin. *lanjut ngemil polysilane 10 biji* *overdosis* *mati*


Read More

Monday, January 23, 2017

SEMBUH TANPA OBAT SOALNYA DOKTERNYA DIAMUK GUBERNUR

  No comments
January 23, 2017


Guys, guys, saya lagi sakit nih guys.

Awalnya seperti gejala masuk angin. Demam, badan anget tapi yang saya rasakan malah dingin (panas dingin), meriang, sakit perut, sakit tenggorokan, dan lidah rasanya pahit banget. #lengkap

Keadaan ini diperparah dengan banyaknya berita - berita di TV tentang penyakit - penyakit seperti Antrax dan Flu Brung yang sedang merebak di berbagai kota di Indonesia. Gejalanya mirip - mirip dengan yang saya alami ini. Rasanya pengen banting TV, sayangnya cuma ini TV satu - satunya yang saya miliki, dan saya gak bakal beli TV baru lagi.

Bisa - bisa bukannya mati karena penyakit, saya mati karena digorok ibu gara - gara ibu ga bisa nonton serial India kesayangan di ANTV.

Untungnya pas gejala sakit ini muncul, saya masih di kampung, jadi ada ibu yang ngerawat. Dibuatin air jahe, dan disediakan asupan makanan yang cukup. Sayangnya di hari yang sama saya harus balik ke Denpasar, soalnya besok musti ngantor lagi. Sedih..

Nyampe kos saya hanya bisa rebahan. Gerakan yang berlebihan hanya membuat migrain saya makin sakit. Demamnya sih udah mendingan setelah dikerok sama ibu. Keroknya pake uang aluminium, sakit banget. Kerokan itu paling enak pake uang logam 100an jaman dulu, yang gede, yang dari besi. Lebih enak, daripada yang aluminium, sakit banget. Apalagi badan saya cuma sisa tulang dan kulit, rasanya makin ngilu!

Salah satu keberhasilan pemerintah orde baru adalah peninggalan uang logam 100 yang enak dipake kerokan

Saya coba untuk mengurangi mengkonsumsi obat - obatan kalo sakit. Biar gak jadi kebiasaan. Dari kebiasaan menjadi kecanduan. Saya juga gak suka dikit - dikit langsung ke dokter, kasian soalnya dokternya baru diamuk oleh Gubernur. #eh

Esoknya badan mulai ga berasa demam. Cuman kepala masih berasa ketusuk linggis sebesar bambu, dan mulut pahit bener (apakah ini juga efek lama gak pernah ciuman sama aspal?). Ketika bangun pagi mikir yang lain, cuma fokus untuk bertahan seharian tanpa obat - obatan. Syukur - syukur kalo sakitnya bisa mendingan.

Hujan turun ketika saya hendak berangkat. Pas banget ketika saya mau nutup pintu. Yaelah, harus sekarang banget nih hujannya Yang Mulia Dewa Hujan??

Gak ngerti kalo hambanya lagi recovery ya? -___-

Hujannya gak lebat sih. Cuma rintik - rintik doang. Jangan - jangan di langit lagi ada perdebatan. Dewa Hujan jadwalnya gak bisa dinego, udah dikejar deadline untuk nurunin hujan pagi ini, tapi Dewa Pelindung melindungi saya dari kehujanan, nah air hujan yang gak kebendung terciprat dan jadilah hujan rintik - rintik ini. #random

Mumpung hujannya ga lebat dan saya lagi males (emang selalu males) pakai jas hujan, saya langsung tancap gas ke kantor tanpa mantel hujan. Gak sampe basah kuyup karena emang hujannya gak terlalu deras seperti yang sudah saya bilang barusan.

Dan di kantor saya yang jaraknya cuma 10 menit dari kos terang aja dong! Kebiasaan banget kayak gini. Parah. Untung saja saya gak telat yang memaksa saya memakai alesan kehujanan, bisa - bisa bos mengira saya bohong dan bilang,"Disini aja gak hujan.. :)"

Seharian di kantor, saya mencoba menahan sakit kepala yang makin menjadi. Saya makan lebih banyak dari biasanya biar tubuh dapet asupan nutrisi yang cukup. Dari sini aja kita bisa dapet simpulin kalo sakit bikin kita jadi lebih boros. Buat kalian yang belum sakit, jaga kondisi ya gak sakit. Jaga hati biar gak sakit mencintai orang yang gak bisa kalian miliki :)

Menjelang siang hari sakit di kepala makin tak tertahankan. Saya bawa tidur, bangun - bangun bumi malah muter - muter. Saya bawa lari ke kopi, kali aja kafein bisa bikin sakit di kepala jadi berkurang. Sekalian menetralisir pahitnya lidah.

Cara ini berhasil. Meski sebentar.

Sesaat kemudian sakitnya kambuh lagi. Saya menahan sakit hingga jam pulang kantor. Sampai kos akhirnya saya menyerah dan minum obat.

TENGKYU PARACETAMOL!!!!

Sekarang sakit kepala sudah hampir hilang. Ujung - ujungnya butuh bantuan obat juga. Delapan jam lagi saya musti minum obat lagi, karena meski sakitnya sudah hilang, obat tetep harus diminum agakr penyakitnya gak kambuh dan jadi resistan terhadap efek obatnya.

Sakit kepala udah ilang, tinggal perut yang masih sakit melilit kayak orang maag dan lidah yang pahit (mungkin memang kurang diciyum kamu. #tetep), sama badan yang masih agak lemes. Semoga dengan diistirahatkan beberapa kali lagi saya bisa pulih sepenuhnya. AMIN.


Read More