Wednesday, March 8, 2017

BURNT (2015)

  No comments
March 08, 2017


Burnt berhasil memuaskan harapan saya dari sebuah film bertema kuliner. Mata saya dimanjakan oleh penampakan makanan - makanan enak, serta proses membuatnya yang sudah seperti melukis di atas kanvas.

Awalnya saya kira Burnt ini adalah sekuel, karena di awal diceritakan tokoh utama baru terbebas dari hukuman, lalu mulai menyatukan puing - puing kehidupannya kembali. Cuman setelah saya cari, ternyata Burnt adalah film tunggal. Steven Knight sebagai penulis cerita sukses menyampaikan masa masa lalu dengan baik melalui dialog - dialog antar tokoh, dan dari adegan - adegan yang dialami si tokoh utama. Meski tidak ada adegan flaskback ke masa lalu, saya bisa tahu kurang lebih apa yang terjadi di masa lalu pada film ini.

Saya ikut merasakan ketegangan yang terjadi di dapur di balik sebuah restoran. Saya jadi mengerti, dibalik makanan yang kita santap saat berkunjung ke tempat makan, ada keringat dari pembuatnya, ada tekanan mental yang dialami oleh crew, dan perjuangan untuk memberi sesuatu yang sempurna kepada pengunjung.


Saya yang mental lemah ini gak kebayang jika saya berada di posisi anggota tim chef dalam film tersebut, atau bahkan di dapur restoran seluruh dunia. Mereka harus cepat, mengingat pesanan datang dalam waktu singkat, belum lagi jika pesanan yang datang sangat banyak. Kalo saya ada disitu, mungkin saya sudah jantungan bahkan sebelum restorannya tutup di hari pertama saya bekerja.

Fakta mencengangkan saya dapat dari film ini. Ternyata, banyak dari kita underestimate kepada restoran-restoran cepat saji. Citra mereka dalam benak kita sudah terlanjur buruk karena kualitas kesehatan dalam kandungan makanannya. Padahal kalo dari dunia kuliner, restoran cepat saji memiliki satu kekuatan besar yang menjadi syarat sebuah restoran bisa dikatakan bagus.

Hal itu adalah: konsisten.

Baik dari rasa, takaran bumbu dan bahan makanan, ukuran dari masang - masing makanan yang disajikan.


Kalau menurut saya sih karena memang resto kayak mekdi atau kfc resep dan cetakan bahannya sudah template, makanya bisa konsisten dari segi rasa dan ukuran. Sedangkan resto - resto khususnya resto berbintang, semua ditata dan dibuat secara manual. Keahlian dan keterampilan koki sangat berpengaruh disini. Makanya mahal, karena ada effort yang sangat besar dalam prosesnya.

Satu lagi yang saya pelajari dari film ini adalah semua benda yang diletakkan di dalam piring pengunjung, bukan sekedar hiasan biar cantik semata. Semua bisa dimakan. Koki tidak akan meletakkan sesuatu yang tidak bisa dimakan di atas piring. Baik itu rerumputan, dedaunan, sampai bunga, semua layak dimakan. Dan rasanya enak! (kata filmnya)

Film ini sangat menarik. Bahkan saya sampai gak berasa pas asik nonton tiba - tiba sudah ending aja, saking terhanyutnya saya dalam tiap adegan - adegan yang ditampilkan. Serta hasil dari tangan dingin sutradara John Wells mengarahkan setiap adegan dan akting para pemainnya.




Read More

Perpanjang SIM Online di Poltabes Denpasar

  No comments
March 08, 2017


Pada akhirnya saya gak kesampean ngurus SIM Online yang sesungguhnya. Soalnya pada saat bawa berkasnya ke poltabes, disana gak ada yang bisa saya tanya. Loket informasi kosong, beberapa polisi yang saya tanya malah nyuruh saya ke tempat pengurusan SIM secara manual. Ujung - ujungnya saya malah ngikutin prosedur seperti perpanjang SIM offline. -___-

Dan saya baru melihat lokasi registrasi ulang pengurusan SIM Online ketika nunggu antrian cetak foto melalui jalur normal. #shithappen.

Ruangan pengurusan SIM waktu itu lagi penuh banget. Saking penuhnya sampe saya gak bisa lihat ruangan pengurusan SIM online. Pengunjung yang datang pun pada berdesak-desakan di depan loket. Tidak ada sistem antri di markas petugas keamanan sungguh sebuah ironi.

Sebenarnya ada sistem penomeran antrian, dan antrian berbaris, hanya saja ketika itu susana memang sedang kacau karena satu loket tidak dibuka. Petugas keamanan melalui pengeras suara meminta permakluman pengunjung karena ketika itu 50% personil ditugaskan mengamankan kunjungan Raja Salman di Nusa Dua.


Hampir saja saya batal ngurus perpanjangan SIM ketika itu. Ketika menyerahkan berkas SIM Online di loket koreksi, oleh petugasnya saya disuruh ke polsek di kampung, sesuai dengan alamat saya di KTP. Saya sempat meninggalkan loket, kemudian balik lagi ke loket koreksi karena saya gak terima sudah jauh - jauh kesini malah disuruh ke kampung. Padahal di form SIM Online terang - terangan tertera polsek yang saya tuju untuk perpanjang SIM secara online adalah poltabes Denpasar.

Petugasnya sudah ganti ketika saya kembali. Yang sebelumnya pria, sekarang menjadi ibu - ibu. Ibu - ibu ini baik dan sabar, serta tetap bisa tersenyum. Dan dengan mulus berkas saya diterima dan saya diberi nomer antrian untuk selanjutnya menunggu panggilan untuk difoto. Mungkin saya kala itu sedang beruntung saja, seandainya yang jaga masih bapap polisi yang tadi, ceritanya mungkin berbeda.

Meski saya tidak sepenuhnya menjalani proses perpanjangan SIM online di poltabes, saya bisa melihat banyak keuntungan dari ngurus SIM secara online. Sistem online memotong proses berdesak-desakan mengantri mengambil blangko. Blangko bisa diisi dirumah atau dimana pun kalian suka, semasih disana terhubung oleh internet untuk mengangkes situs ke sim online polri. Dan lagi ruangan sim online di poltabes sangat sejuk. Jauh berbeda dengan ruangan SIM manual.

Dari jam sembilan tiba di poltabes, setelah menunggu sekitar 4 jam, akhirnya jam 1an SIM saya jadi. Momen ketika nama saya dipanggil untuk mengambil kartu menjadi salah satu momen terbaru dalam hidup saya yang masuk kategori momen terindah. Mengingat bagaimana perjuangan saya selama kurang lebih 4 jam disini. Kebingungan, keringetan, kegerahan, lupa sarapan dan minum (artinya saya puasa setengah hari. hahahaha), capeknya menunggu, diomelin polisi gak jelas (cuma ditanya ditanya lokasi SIM online aja pake bentak - bentak). hampir batal bahkan gagal ngurus SIM.


Saking senengnya, saya gak ragu - ragu memakai jasa laminting yang buka lapak di parkiran poltabes. Saya biasanya pelit soal beginian, biasanya saya laminating di tukang fotocopy, atau bungkus pakai plastik. Karena senengnya, saya rela memakai jasa bapak ini, meski riskan kena 'palak' harga tinggi.

Tapi ternyata hasil laminating bapak ini rapi. Laminatingnya memakai sejenis screen guard untuk hape.


Satu lagi hal unik yang baru saya sadari ketika ngurus SIM online ke poltabes tadi adalah: jika kamu ingin melihat puluhan hingga ratusan orang berzodiak sama berkumpul dalam satu tempat, datanglah ke tempat pengurusan SIM. :))

Oia, bayar SIM onlie cuma 75ribu. Biaya surat keterangan dokter di puskesmas Denpasar sebesar 21rb.

*

SIM Online part 1



Read More

Saturday, March 4, 2017

SEORANG PRIA NGAMUK DI PUSKESMAS DENPASAR

  No comments
March 04, 2017


Jika hendak berhadapan dengan birokrasi, ngurus surat dan semacamnya, kita musti siap nyiapin waktu lebih. Makanya pas denger di Jakarta dan daerah lain sudah bisa ngurus surat - surat kependudukan dan hal lainnya kurang dari 10 menit, saya iri.

Bulan ini masa berlaku SIM saya habis. Saya mulai memutar otak bagaimana teknis ngurus SIM yang akan saya tempuh. Selama ini saya ngurus SIM-nya lewat calo. Bayarnya lebih mahal, tapi tidak perlu capek - capek antri, berdesak-desakan, dan memakan waktu yang lama. Kalau mau sesuai tarif normal, musti nyiapin waktu, tenaga, dan kesabaran. Seperti hukum tak tertulis yang berlaku dalam bisnis pelayanan.


Karena terbentur jam kerja kantor saya, saya tidak bisa mengurus langsung ke polres lewat jalur resmi. Saya titipurusan ini ke ibu. SIM saya fotocopy, aslinya dibawa ibu, fotocopyannya saya yang bawa. Buat jaga - jaga kalo di jalan ada razia. Kalo polisi yang ngadain razia nanya, saya bilang aja SIM saya hilangg atau sempet ada insiden di jalan dan SIM saya ditahan sama korban saya. :p

Ternyata kenalannya ibu gak bisa ngurusin kalo belum mepet tanggal berlaku SIM-nya mati. Kebetulan waktu itu SIM saya baru habis masa berlakukan satu bulan kemudian. Dapatlah saya info kalau sekarang bisa ngurus SIM lewat jalur online. Saya pun mencobanya. Karena yang namanya online, HARUSNYA lebih gampang, cepat, dan praktis.

Ternyata caranya mudah sekali. Dibantu pacar (saya belum sempat nyari wifi/internet), daftar online tidak lebih dari 10 menit! Asal data yang dibutuhkan sudah lengkap, seperti data di SIM lama, nomor KTP, dan data KTP orang tua.

Kesulitan yang saya alami adalah menentukan Polres tempat saya akan mengurus SIM online nantinya. SIM yang lama domisilinya di Klungkung, sedangkan saya tinggal di Karangasem. Saya coba pakai Polres Karangasem, ternyata gagal. Dari keterangan yang tertera di web-nya, Polres Karangasem belum terdaftar di sistem. Saya coba ganti ke Polres Klungkung, lalu tiba - tiba kepikiran sekalian saja mencoba di Poltabes Denpasar biar deket. TERNYATA MAU!

Jadi kesimpulannya: SIM Online bisa dilayani dimana saja.

Setelah semua tahap terlewati, kita akan mendapatkan bukti registrasi via email. Nanti bukti itu diserahkan ke polres yang dituju untuk mendapatkan SIM. Di bukti pendaftaran dicantumkan berkas - berkas yang harus dibawa saat pendaftaran ulang, seperti KTP asli dan fotocopy, SIM lama dan fotocopy, serta surat keterangan sehat dari dokter.

Hati - hati dalam menulis data di situsnya, saya sempat keliru menulis nomer SIM lama, sehingga gagal mendaftar. Pelan - pelan aja ngisinya. Cek berkali - kali. Pastikan gak ada yang salah. Jangan panik jika gagal dalam percobaan pertama. :)

Pendaftaran SIM online selengkapnya bisa disimak pada video di bawah ini.


Hal yang saya lakukan selanjutnya adalah mencari surat keterangan sehat. Saya cari ke Puskesmas terdekat dari kos saya. Kalian juga bisa mencarinya di RS. Saya kurang tahu apakah ke dokter pribadi juga bisa, tapi itu patut untuk dicoba.

Resiko memilih puskesmas di kota besar, pengunjungnya selalu rame. Saya bersyukur ada pria yang ngamuk ke petugas puskesmas. Ia membuka pintu pol umum dan dari pintu Ia bicara ke petugasnya,"Belum selesai, Bu? Saya sudah satu setengah jam nunggu disini."

Petugas meminta pria itu untuk bersabar sedikit lagi. Sayangnya pria itu sudah terlanjur emosi. "Saya ga jadi deh bikin surat disini! Lama sekali." lalu Ia ke kasir, "Saya minta uang saya kembali, ga jadi saya bikin surat disini."

Petugas kasir gak bisa ngomong apa - apa. Dia balikin uang si bapak itu. Bapak itu pun pergi bersama pacarnya.


Drama pun dimulai.

Petugas tergesa - gesa keluar pol umum, mengejar pria tadi sambil membawa surat keterangan sehat si pria,"Pak, pak, tunggu sebentar! Ini suratnya sudah jadi!" teriak ibu petugas sambil berlari.

Pria yang masih belum jauh (kayanya baru sampai di parkiran) rupanya udah ga emosian lagi. Dia nutur diajak balik ke puskesmas. Ngurus administrasi lebih lanjut untuk diisi di surat keterangan sehat, seperti misalnya tensi dan data lain. Untung dia nyari surat untuk pacarnya, kalo pria ini yang nyari surat keterangan dokter ketika itu, dan dicek tensinya, hasilnya pasti tinggi. Kan habis marah - marah :)) Suratnya bukan jadi keterangan sehat, tapi keterangan sakit.

Kenapa kejadian ini menjadi keuntungan untuk saya? Karena, saya jadi ada hiburan untuk ditonton sambil nunggu giliran dipanggil (meski sempet ikut tegang juga nontonnya), pasca kejadian ini semua petugas jadi lebih sigap kerjanya. Front office yang tadinya letoy menerima pengunjung yang datang dan memanggil nomer antrian pengunjung, sekarang jadi bersemangat. Begitu juga petugas kasir dan lainnya. Sekarang jadi berasa nonton video, tapi kecepatan videonya dimajukan 1,5x. Saya dari bayar di kasir, sampai menerima surat keterangan sehatnya bahkan tidak sampai 10 menit. Thx bapak yang tadi.


Pacar bilang biaya bikin surat keterangan sehat cuma 7000 perak. Untung saya bawa uang lebih. Kenyataannya bayar 21ribu. Tujuh ribu itu kalo di puskesmas-puskesmas di kabupaten Badung.

Surat keterangan sehat udah dapet, saatnya bayar biaya perpanjangan SIM. Di lembar registrasi pendaftaran online tercantum biaya perpanjangan SIM sebesar 75ribu. Di situsnya dijelaskan kalo bayarnya bisa di ATM BRI.

Saya gak punya ATM BRI. Kebetulan kantor deket dengan kantor BRI, saya langsung saja ke kantornya. Nyampe sana, saya langsung nanya ke security, bayar perpanjangan SIM di bagian mana? Pak security tampak bingung. Ia minta waktu untuk bertanya ke petugas di bagian office, ruangannya di dalam, sambil membawa lembar registrasi milik saya.

Lima menit kemudian security kembali,"Bli sudah coba ke polresnya langsung?" tanya pak security.

Saya jelasin kenapa saya milih bayar langsung kesana.

"Coba langsung ke polresnya saja ya, Bli," saran pak security lagi.

Saya langsung ingat kalau memang ada stand bank BRI di setiap polres. Saya pun mengiyakan saran pak security. Dan berencana langsung bayar ke polres dua hari lagi. Soalnya besoknya saya gak bisa ke polres karena ada tugas lapangan ke Jembrana yang tampaknya sampai sore, dan ketika saya di BRI itu pun sudah lewat jam 12, sedangkan di keterangan pada lembar bukti pendaftaran/registrasi SIM online disebutkan untuk datang dari jam 8 - 12 siang.

Saya sempat mencoba bayar lewat ATM minjem kartu ATM-nya pacar. Jadi ketika setelah memasukkan pin, pilih opsi pembayaran ->  lainnya -> POLRI -> SIM. Akan muncul perintah memasukkan nomor registrasi. Namun ketika saya mencoba memasukkan nomor registrasi, gagal. Sistem menolak. Muncul keterangan kalau pembayaran untuk pilihan itu belum ada. Saya coba beberapa kali, saya lebih cermat lagi ketika memasukkan nomer registrasi, tetap tidak bisa. Saya simpulkan, mungkin untuk di Bali belum tersedia layanan pembayaran SIM Online lewat ATM.

Pada hari sabtu jam 8 saya pergi ke polres. Gak sempet makan, bahkan minum, tapi masih inget mandi Saya buru-buru ke polres. Jam 8 sudah termasuk kesiangan kalo mau ke polres di hari sabtu. Pacar sudah nanya ke bapaknya yang  seorang polisi tentang jam operasional polres di hari sabtu. Katanya polres cuma buka sampai jam 10.

Saya sudah panik. Baru bangun jam sudah nunjukin pukul 8 kurang dikit. Motor gak isi bensin, dan rantainya kendor. Sempet mampir ke bengkel langganan, ternyata belum buka. Mungkin ini cara tuhan mau ngasi tahu saya untuk ke polres aja dulu, ngurus motornya nanti setelah urusan SIM selesai.

Jam 9 lebih dikit, saya sudah sampai polres. Setibanya disana, kondisi tempat pengurusan SIM benar - benar chaos. Apa yang terjadi disana? Saya lanjutkan di tulisan selanjutnya.



Read More

Wednesday, March 1, 2017

END (Trip ke Lumajang part 4)

  No comments
March 01, 2017


Skedul selanjutnya sekembalinya kami dari Alas Purwo adalah mandi. Sambil nunggu antrian, saya mengisi batre hape. Saya mempersiapkannya sangat matang hingga bawa colokan triple socket dari rumah, biar ga rebutan terminal.

Kami mandi di kamar mandi yang tersedia di Pura Blambangan. Kamar mandinya cukup banyak. Bahkan ada kamar mandi khusus untuk pendeta. Dan yang paling penting: kamar mandinya GRATIS!

Kamar mandinya memang sempit. Tapi sangat bersih. Untuk sekelas kamar mandi umum, hal ini sangat spesial. Rasanya kalo saya ngekos deket pura Blambangan, saya akan tiap hari mandi kesitu. Sekalian biar hemat biaya air.

Usai mandi, kami makan bareng. Menu yang sama: nasi kotak. Kayaknya lauknya pun juga sama dengan yang kami dapatkan saat baru berlabuh di Ketapang.

Pedagang yang jualan tempat tirta, juga jual anekan jajanan, minuman, dan oleh - oleh. Saya coba tawar, buat dibawa pulang untuk oleh - oleh. Sayangnya tawar menawar kami gagal. Saya tidak mampu membujuk dagangnya, dan proses jual beli diantara kami urung terjadi. :3

Kelar makan, kami langsung berangkat menuju Lumajang. Kata travelnya, perjalanan memakan waktu kurang lebih 5 jam memakai bis. Itu sama dengan saya lima kali bolak - balik Denpasar-kampung saya di Karangasem!

Saya coba bawa tidur saja. Kondisi saya dari Bali sudah gak enak. Kepala pusing sekali dan agak sedikit mual. Awalnya saya coba tahan biar gak dikit - dikit langsung ke obat kimia. Tapi sakitnya makin gak tertahankan. saya minum paracetamol, sakitnya hanya berkurang sedikit. Sedikit-banget. Bahkan sampai balik dari Lumajang sakitnya gak hilang -hilang, padahal udah makan hampir 4 paracetamol selama 2 hari. Sampe Gilimanuk saya putuskan minum Antimo, bukan untuk menghilangkan sakit kepala, tapi biar bisa tidur tenang tanpa gelisah menahan sakit, dan baru bangun kalo pas sudah sampai Denpasar.

Gara - gara sakit kepala ini, kenikmatan trip kali ini jadi berkurang. Saya jadi gak bisa terlalu berbaur karena gerak terbatas akibat menahan sakit. Di atas kapal saat menyeberang balik ke Bali pun saya hanya bisa duduk dan menempelkan kening di besi pegangan kapal. Hanya untuk merasakan dinginnya besi, biar kepala agak adem dan memberi tekanan kepada kening untuk mengurangi rasa sakit.

Ketika tidak tahan nahan sakit, sesekali saya minta bapak saya yang duduk di sebelah saya memijat leher bagian belakang saya. Rasanya lumayan enak. Tapi seringkali juga saya memijat diri saya sendiri biar gak terus-terus merepotkan. Ketika saya melakukan pijitan untuk diri sendiri, disitu saya merasa menyedihkan banget. #ngenes T_T

Sampai di Lumajang waktu sudah hampir tengah malam. Rintik - rintik hujan menyambut kedatangan kami. Kami langsung menuju pura untuk bersembahyang. Setelah itu acara bebas dan balik ke Bali esok pagi.

Sebelum kesini, saya di Bali sempet browsing dahulu nyari info tentang Lumajang. Di foto Lumajang tampak sangat keren, tapi melihat langsung, lebih keren lagi. Megah banget. Gelapnya malam dan rintik hujan tidak mengurangi keindahan gapuranya yang sangat khas. Esok paginya, gapura ini makin tambah cantik.





Selesai sembahyang dan makan sate kambing di warung dekat pura, saya dan bapak memutuskan tidur di areal pura bersama pemedek (umat yang datang ke pura untuk bersembahyang) lainnya. Yang lainnya ada yang menyewa penginapan.

Kami tidur di lantai-lantai sekitar areal pura yang diijinkan. Area pura biasanya dibagi menjadi 3 bagian. Bagian tengah dan dalam yang harus steril dari kegiatan menginap ini.

Agenda menginap ini diluar prediksi saya dan bapak. Awalnya kami kira selesai sembahyang di Lumajang, kami langsung balik, sehingga kami tidak mempersiapkan karpet atau alas tidur. Beberapa menit kami bolak - balik masuk pura. Sempet ke bis, lalu berubah pikiran dan balik ke pura lagi. Mondar - mandir mencari apakah ada space karpet kosong yang bisa kami tiduri agar tetap hangat. Kami bener - bener kayak anak hilang. Saya jadi merasa menyedihkan. #ngenes #2

Ada space karpet yang kami lihat kosong, tapi ga enak minta ijin sama yang punya. Biasanya pemedek yang tidur itu berjejer bersama keluarganya, tengsin aja gitu kami dua pria dewasa menyusup diantara mereka.


Mungkin bapak udah saking ngantuknya, Ia tidur di lantai kosong terdekat yang Ia lihat. Saya amat kasian melihat dia tidur di lantai tanpa alas dan selimut semalaman. Ada beberapa orang yang tidur di karpet dan menggulung ujung karpet sebagai pengganti bantal. Padahal sisa karpet yang digulung itu lumayan untuk menampung banyak orang. Grrrrr

Bapak sudah tidur duluan. Saya masih mencari lokasi tidur yang lebih layak untuk kami berdua. Tampak ada tempat agak ke dalam yang terlihat hangat. Meski gak ada alasanya juga, setidaknya gak sedingin di luar tempat bapak tidur sekarang. Saya tidak tega jika sampai melihat dia masuk angin. 

Tidurlah kami berdua di tempat pilihan saya.

Esok pagi kami mandi secara bergiliran. Setelah dua kali memakai kamar mandi untuk cuci muka, dan buang air kecil kemarin malemnya, saya melihat banyak temen - temen pria belok ke belakang wc yang saya masuki alih - alih masuk kesini. Saya ikuti mereka. Penasaran.

Ternyata kamar mandi cowo yang benar ada disana! Jadi selama ini saya masuk kamar mandi cewe. Untung ga ada cewe yang masuk, atau ada yang melihat saya masuk ke tempat yang salah.

Abis mandi, sembahyang, lalu kami sarapan bareng. Kali ini makannya tidak nasi kotak. Tapi prasmanan di sebuah warung deket pura yang sudah dibooking untuk kami semua. Saya juga sempat beli oleh - oleh, yang harganya gak jauh beda dengan harga di pura Blambangan. Mungkin belum rejeki pedagang di Pura Blambangan mendapat uang saya. :))

Perjalanan ini pun usai. Kami balik ke Bali. Saya meringis kesakitan sepanjang perjalanan menahan sakit kepala (kecuali pas makan antimo, saya tidur pules banget, bangun - bangun sudah tiba di kantor bapak).



Btw, sakit kepala ini terus menyerang saya sampe seminggu kedepan. -___-"

*

Trip Lumajang part 1part 2part 3

Read More

Tuesday, February 28, 2017

Pura Alas Purwo (Trip ke Lumajang part 3)

  No comments
February 28, 2017


Salah satu hal yang membuat trip kali ini menyenangkan adalah cuacanya yang pas. Cuaca yang pas versi saya adalah yang mendung - mendung tapi gak tampak akan hujan. Jadinya teduh, tapi sinar matahari masih cukup enak untuk dinikmati.

Bagi yang sudah ngikutin tulisan saya sejak lama, pasti sudah tau alasan saya menyukai seperti ini. Karena cuaca seperti ini bikin setiap momennya jadi gampang teringat dan enak buat dikenang. Suasanya mirip seperti dalam mimpi - mimpi. Coba deh diinget - diinget, di mimpi biasanya cuacanya teduh kan? Jarang, bahkan tidak pernah cuacanya terik menyengat.

*

Selesai sembahyang di pura Blambangan, rombongan beranjak ke pura Alas Purwo. Travelnya bilang jalan kesana tidak bisa dilalui oleh bis, sehingga rombongan dibagi mejadi beberapa kelompok dan diangkut ke Alas Purwo memakai mikrobus (lebih tepatnya angkot yang disewakan :D). Tidak seperti bus yang kami tumpangi sebelumnya, di angkot ini kami musti desak-desakan dan berpanas-panasan. Bahkan angkot yang saya tumpangi tuas kaca jendela depannya, tempat saya duduk, sudah terlepas. Jadi kalo mau menaikkan atau menurunkan kaca, tuasnya musti saya pasang ke tempat yang semestinya, baru saya puter.

Sepertiga rute dari Blambangan ke Alas Purwo jalannya masih normal. Beberapa bagian tampak ada lubang dan aspalnya tidak rata, tapi itu masih batas wajar. Mulailah ketika memasuki daerah hutan, jalannya mulai menampakan wajah aslinya. Hancur banget. Salah - salah mobil bisa terbalik. Makin masuk hutan, makin parah. Bahkan ada yang tidak teraspal. Genangan air membuat jalanan penuh lumpur. Mobil - mobil yang menuju Alas Purwo masih kinclong - kinclong, yang balik dari Alas Purwo tanah di body mobilnya kalo kita taro biji kacang disana, bakal numbuh dah tuh.

Di pintu masuk hutan, tampak orang - orang sedang menggunduli hutan untuk dialih fungsikan jadi tanah pertanian. Ini adalah salah satu proyek pemerintah daerah setempat. Sedih sebenernya melihat ini. Hutan adalah satu - satunya harapan dunia untuk tetap bisa bernafas. Tapi tujuan alih fngsi lahan ini pun tidak salah. Perekonomian masyarakat jadi meningkat dan kebutuhan pangan rakyat terpenuhi. Ironis memang, demi kebutuhan manusia, manfaat lain dari hutan yang lebih besar harus dikorbankan.

Rumah - rumah sepanjang jalan menuju Alas Purwo sama seperti rumah - rumah sepanjang jalan menuju dan di sekitar pura Blambangan. Yang paling membedakan dengan rumah - rumah di Bali selain lokasinya yang tidak di Bali (yakali!), tidak ada ukiran Balinya dan tidak ada pagarnya. Beberapa rumah ada yang memiliki pagar, tapi tidak setinggi pagar - pagar di Bali. Saya belum sempat menanyakan apa alasannya. Pak sopir sempet cerita kalo masyarakat sekitar situ sengaja memelihara anjing agar ketahuan kalo ada orang atau pencuri masuk rumah. Tapi kenapa enggak bikin pagar juga?

Ini baru asumsi saya, mungkin pagar dianggap sia-sia untuk menghalangi pencuri masuk. Ketiadaan pagar juga menunjukkan kalo masyarakat disini sifatnya terbuka dan tidak ada yang ditutup-tutupi. (Atau sekalian biar gampang kalau mau show up? :p)

Di tengah jalan sebelum memasuki hutan, iring-iringan mobil kami sempat melewati seorang pemuda mengendarai motor di sisi jalan yang berlawanan dengan kami. Awalnya sih biasa aja. Lama - lama dia mulai berulah. Dia meneriaki setiap mobil yang lewat, "Wong Bali CICIIIIIING..!!!"

Cicing artinya anjing dalam bahasa Bali, cuman versi kasarnya. Versi alusnya bisa kuluk, konyong,  mantan pacar, atau yang paling halus: asu.

Tapi karena pemuda ini ngomong menggunakan logat Jawa, dan memakai kata 'wong' yang sebagian dari kami tidak terbiasa memakainya, cacian pemuda ini jadi terdengan biasa aja. Kami hanya bisa terkekeh bersama di dalam mobil karena jadi terkesan lucu. Kekekekekek

Hal baru lainnya yang saya amati dari perjalanan kali ini adalah banyaknya orang - orang berada di tengah jalan meminta sumbangan. Kebanyakan sumbangannya ditujukan untuk keperluan masjid/mushola, misalnya untuk renovasi bangunan. Itu yang saya baca dari spanduk yang mereka bentangkan dan kata sang orator dengan mikrofonnya. Minta sumbangannya pun selalu di depan masjid/mushola. Mungkin untuk ngasi tahu,"Masjid ini loh yang mau kami perbaiki.."

Kadang saya suka kaget sih. Kecepatan kendaraan kami, baik angkot ataupun bus cukup tinggi. Tiba - tiba ada orang tengah jalan. Apalagi berdirinya tepat setelah tikungan. Untung pak sopir cekatan mengendalikan stir. Kayanya sih bapaknya sudah hapal posisi mereka. Secara jalannya sering mereka lewatin nganter tamu.

Di dalam hutan, di kiri kanan tampak pohon - pohon berdiri teratur rapi tinggi menjulang. Beberapa pohon sudah dikasi nomer di batangnya, kayaknya bakal ditebang. Pohon yang bisa saya kenali hanya pohon mahoni, sisanya saya tidak tau. Hehe..

Pura Alas Purwo indah sekali. Berbeda dengan pura Blambangan yang penampakannya seperti pura - pura Bali kebanyakan, pura Alas Purwo gerbangnya khas sekali. Ikonik. Penataan tempat duduk pemedek (pengunjung) yang hendak sembahyang tertata rapi. Tempat menghaturkan canang atau banten (sesajen) ditutupi jeruji besi. Itu artinya disini banyak monyet. Salah satunya sedang membaca tulisan ini. :p




Ibu - ibu yang naruh banten sangat teledor, kebanyakan lupa menutup kembali pintu jerujinya. Untung saja tidak ada monyet yang nekat masuk ke jeruji (soalnya monyetnya lagi sibuk baca tulisan ini :p :p)

Keluar pura saya mendadak haus banget. Air minum ketinggalan di bis. Saya putuskan untuk beli minum di warung di sekitar pura. Bapak saya memperingati untuk tahan saja hausnya. Dia takut harga barang disini mahal - mahal. Biasanya sih gitu, harga barang di sekitar pura bisa 4 sampai 5 kali lipat harga normal. Selain karena jumlah pengunjung yang banyak, pajak tempat mereka berjualan tampaknya juga tinggi. Sehingga mereka harus menaikkan harga barang biar balik modal. Target pasar mereka paling empuk biasanya anak - anak kecil/balita. Sayang anak.. sayang anak...

Dan beneran aja. Padahal saya sudah sengaja beli Sprite yang ada harga yang disarankan pabrik tertera di bungkusnya, tetep aja ibunya masang harga tinggi. Males nyari ribut, saya bayar seharga yang dia minta. Masa habis sembahyang ngerusuh, ga baik kan. Anggep sedekah.

Warung - warung di sekitar Alas Purwo banyak yang jual sarang lebah hutan (dikasi keterangan: ALAMI, BUKAN HASIL TERNAK!). Tapi emang iya sih, setelah saya lihat pohon - pohon di hutan ini banyak sarang lebahnya.

Ciri khas dari sembahyang di Alas Purwo adalah pemedek yang selesai sembahyang lalu medana punia (sedekah) ke tempat yang disediakan, akan diberi benang 5 warna yang bisa digunakan sebagai gelang. Karena diijinkan oleh petugasnya, saya sekalian minta untuk ibu, adik, dan pacarnya adik di rumah. #gamaurugi #serakah

Dari petugas pura sini, saya jadi tahu kalo sebenernya rombongan kami salah urutan masuk pura. Harusnya pura yang kami masuki terlebih dahulu adalah pura inti yang letaknya tidak jauh dari pura tempat kami bersembahyang. Tapi kata petugasnya lagi, itu bukan masalah besar. Yang penting niat sembahyangnya tulus. Tuhan kan ada dimana - mana. O:).

Singkat cerita, kami sekarang sudah otw balik ke Blambangan untuk kembali ke bis. Musti melewati jalan ekstrem yang tadi lagi. Yang bikin makin gokil adalah ada bis tujuan ke Alas Purwo ngotot lewat jalan itu. Yaelah bandel amat ini bis! Jelas aja jalan yang udah rusak bin sempit ini jadi macet. Kendaraan dari Alas Purwo ga bisa lewat karena badan jalan penuh oleh badan bis ini. Mana bis itu udah miring - miring kayak mau jatoh ke sawah di sampingnya.

Berkat kerjasama para sopir yang ada disitu, dan kesigapan sopir kami, saya dan rombongan bisa balik ke pura Blambangan dengan selamat. Bis yang tadi nyangkut tadi pun bisa lewat (setelah bisnya dibongkar kerangkanya sampai ke kursi-kursinya! Muehehehe #becanda).

Bye..bye.. mobil angkot yang panas dan gagang kaca yang copot serta pak sopirnya yang lincah. Coba bapak supirnya adalah sopir uber, saya kasi 5 bintang (y)

*

Trip Lumajang part 1part 2part 4.

Read More

Monday, February 27, 2017

Pura Blambangan (Trip ke Lumajang part 2)

  No comments
February 27, 2017


Ini pertama kali saya sembahyang ke pura di Jawa. Pertama pula saya jalan - jalan hanya bersama bapak, tanpa adik dan ibu.

Kita lanjutin cerita yang kemarin ya.

Gelombang selat Bali kala itu cukup enak dipakai menyeberang. Setibanya rombongan di pelabuhan Ketapang, kami langsung diajak makan nasi kotak yang sudah dipesankan oleh pihak travel. Semua sudah diatur dan disiapkan.


Saya tidak habis memakannya. Begitu juga di acara makan - makan selanjutnya. Selain karena lagi enggak selera, saya menahan diri makan terlalu banyak kalau sedang dalam perjalanan seperti ini. Takut mules di jalan!

Lokasi pertama yang kami tuju adalah Pura Blambangan. Karena tertidur di jalan, rasanya cepat sekali sampai. Selama tirta yatra saya memang lebih banyak menghabiskan waktu tidur selama perjalanan di dalam bis. Sejak berangkat dari Denpasar, sampai pelabuhan Gilimanuk, pas sudah di Jawa, hingga balik lagi, saya lebih banyak tidur. :D
Aura yang saya rasakan di pura Blambangan hampir sama dengan pura - pura yang pernah saya kunjungi di Bali. Tapi kalo dibandingkan dengan suasana rumah - rumah sepanjang jalan yang saya lewati dari Ketapang dengan aura puranya, jauh berbeda. Namanya juga beda kultur.




Satu hal yang saya sesali ketika ke pura Blambang dan pura - pura lain selama acara Tirta Yatra ini adalah saya terlalu takut dan pelit membeli tempat tirta (air yang sudah didoakan/air suci) yang dijual oleh pedagang - pedagang di sekitar pura. Hingga akhirnya saya tidak punya wadah untuk meminta tirta ke pemangku (petugas/pemimpin upacara) dan membawanya pulang ke rumah. Ibu saya pasti senang kalo jadi saya bawakan tirta.

Hal yang mengejutkan yang juga terjadi saat di pura Blambangan ternyata bapak pengen sekali selfie dengan saya, anaknya. Dia antusias sekali. Dia bahkan mengusir pegawai - pegawai lain yang sedang fotoan di plang pura demi kami bisa fotoan disana. Meski dia gak ngerti cara bilang 'selfie', dia hanya bilang,"De, fotoan yuk kayak yang biasa orang sekarang lakuin. Yang gitu - gitu itu". Tangannya dia gerakkan seolah-olah membawa kamera dengan posisi tangan naik ke pojok atas :))

Sejujurnya saya gak enak sama yang lain diusir bapak saya seperti itu, tapi saya juga terharu. Sehingga meski gak enak, saya tetep fotoan sama bapak. Jarang - jarang kami seperti itu. Sayangnya bapak saya susah sekali dibujuk untuk senyum di foto, tegang melulu.


Hasil gambar untuk tsuzuku

*

Trip Lumajang part 1part 3part 4.

Read More

Sunday, February 26, 2017

Perempuan Memiliki Daya Persuasif yang Besar. (Trip ke Lumajang Bersama Kantor Bapak part.1)

  No comments
February 26, 2017


Akhirnya saya keluar Bali lagi. Setelah ada peraturan di kantor yang melarang pegawai kontrak untuk ikut perjalanan keluar Bali, saya sudah tidak pernah lagi 'merantau'.

Tiba - tiba ada telpon dari bapak menanyakan sanggup tidak saya ikut dengannya dalam rombongan kantornya tirta yatra ke Jawa, tepatnya ke Lumajang.

Rombongan dijadwalkan berangkat jam 6 pagi. Awalnya saya akan berangkat dari kos, biar deket sama kantor bapak, tempat start keberangkatan. Tapi batal karena motor bapak mogok pas mau balik pulang ke rumah, sehingga esok harinya saya dan bapak berangkat pakai motor saya.

Saya heran dengan mata saya. Kalau ada kewajiban, Ia bisa bangun kapan saja. Kalau sepi motivasi, saya bisa baru melek jam 4 sore!! (Ini kisah nyata)

Karena berangkat dari rumah, pagi itu saya dan bapak jam 5 pagi harus sudah jalan. Artinya jam 4 pagi harus sudah prepare. Dan saya dengan segarnya sudah rapi sejak jam setengah 6! PRESTASI.

Saya jarang membonceng keluarga sendiri. Biasanya kalo ga temen kantor, ya pacar. Setelah hari itu akhirnya ngebonceng bapak, rasanya masih kagok. Belum lagi gaya boncengan bapak saya menyatukan kedua tangannya, lalu dikaitkan ke perut saya. Rasanya geli ,menggelitik.

Bapak saya sendiri gaya bawa motornya lebih mirip adik saya. Pelan dan santai. Kalo saya mirip ibu, ngebut, ga tau aturan, ngaco dah pokoknya. Berkali - kali bapak saya memperingatkan saya untuk hati - hati bawa motornya. Bahkan ketika tikungan atau saya menghindari jalan rusak atau tidak rata, terasa tangan dan badan bapak mencoba mengendalikan saya untuk mengarah ke arah yang bener. Hal ini berasa dari beban muatan di belakang. :))

Karena masih pagi, jalanan masih sepi. Kami bisa sampai tepat waktu sebelum bis berangkat. Di kantor bapak saya sudah ramai. Antara mereka takut ketinggalan, atau terlalu antusias. Beberapa orang ada yang sudah mengenal saya, tapi saya sudah tidak ingat mereka. Bukannya sombong, ketika itu saya masih kecil, ketika saya sekeluarga tinggal di asrama kantor. Kira - kira umur 4 tahun ke bawah (pokoknya umur - umur saya belum sekolah). Saya cuma bisa senyum dan berbisik ke bapak nanya mereka itu siapa?

Saya dapet di Bis 3, bersama teman - teman satu divisinya bapak . Kebanyakan cowok, usia mereka gak terlalu tua. Orangnya asik -asik, dan karena kebanyakan cowok, kalian pasti tahu apa topik kami selama perjalanan kan? :)) Dan pastinya bikin otak gak bersih lagi. Kwkwkwk Di bis lain saya lihat ada yang cakep. (gimana kelanjutan kisah saya dengan cewe cakep ini? tunggu di tulisan part 2. hoho)

Selama perjalanan saya hanya tidur. Gak terasa sudah sampai Pelabuhan Gilimanuk aja. Saya jarang berinteraksi dengan bapak, meskipun itu di rumah. Terlebih karena kami jarang bertemu karena situasi saya yang baru pulang kampung tiap sabtu dan minggu. Tapi dia sudah mencoba jadi bapak yang baik. Setidaknya selama di atas kapal. Dia membelikan saya tisu dan kopi. Meski sebenarnya saya agak cemas sama bapak karena kayanya uang yang saya bawa lebih banyak dari dia. Muehehe

Mungkin ini salah satu usahanya untuk memperbaiki citra di depan anaknya. Secara tiap pulang ke rumah, ibu saya selalu curhat ke saya dan adik tentang kekesalannya ke bapak dan perbuatan - perbuatan bapak yang ibu anggap sebuah kesalahan. FYI, wanita memiliki daya persuasif yang besar. Dari dengerin mereka bicara aja, kita bisa ikutan benci ke orang yang belum kita kenal. 

Begitulah akhirnya saya dan adik sedikit tidak ikutan kesel ke bapak. :D

*

Trip Lumajang part 2, part 3part 4.




Read More